Rabu, 3 Ogos 2011

TARGET BULAN RAMADHAN INI


Setiap tahun kita menyambut Ramdahan yang diberkati,setiap tahun juga Ramadhan berlalu meninggalkan kita,namun...adakah setiap kali ramadhan hadir dalam hidup kita,kita akan up grade amalan dan darjat kita di sisi Allah SWT?

Persoalan inilah yang mesti kita jawab dan muhasabah diri kita sendiri. Maka pada Ramadhan kali ini,marilah sama-sama kita meletakkan sasaran terbaik agar kita dapat mendapat darjat orang-orang yang bertakwa.

Target :
1) Solat berjemaah 5 waktu sehari semalam
2) Kerapkan Bersedekah
3) Solat malam- paling-paling malas pun,solatlah dua rakaat
4) Solat tarawih,ini Insyallah semua buat
5) Baca dan hafaz Quran setiap hari
6) Solat Dhuha
7) Solat tasbih,paling malas pun,sekali atau dua kali bagi ramadhan ni
8) zikir,paling kurang istiqfar setiap hari
9) ?
10)?

up grade selalu...

Rabu, 27 April 2011

SALMAN AL FARJSY


Kisah ini adalah kisah nyata pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), yaitu pengalaman SALMAN AL FARISY

Marilah kita simak Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, terperinci dan lebih terpercaya.

Kata Salman, “Saya pemuda Persia, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapak saya Kepala Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Saya adalah makhluk yang paling disayangi ayah sejak saya lahir. Kesayangan beliau semakin bertambah besar sejalan dengan pertumbuhan diri saya, sehingga karena teramat sa yangnya, saya dipingitnya di rumah seperti anak gadis.

Saya membaktikan diri dalam agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsa saya). Saya diangkat menjadi penjaga api yang kami sembah, dengan tugas menjaga api itu supaya menyala siang malam dan agar jangan padam walau pun agak sejenak.

Ayahku memiliki perkebunan yang luas, dengan penghasilan yang besar pula. Karena itu beliau mukim di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapak pulang ke desa untuk suatu urusan penting. Beliau berkata kepadaku, “Hai anakku! Bapak sekarang sangat sibuk. Karena itu pergilah engkau mengurus perkebunan kita hari ini rnenggantikan Bapak’’

Aku pergi ke perkebunan kami. Dalam perjalanan ke sana aku melewati sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sermbahyang. Suara itu sangat me narik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agarna-agama lain. Karena selama ini aku dikurung bapak di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapa saja. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku masuk ke gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Setelah kuperhatikan, aku kagum dengan cara sembahyang mereka dan ingin masuk agamanya.

Kataku, “Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami. “Aku tidak beranjak dari gereja itu sampai petang. Sehingga aku tidak jadi pergi ke perkebunan.

Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”

“Dari Syam (Syria),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapak menanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.

Jawabku, “Wahai, Bapak! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Karena itu aku senantiasa berada di gereja mereka sampai petang.”

Bapak memperingatkanku akan perubatanku itu. Katanya, “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”

Jawabku, “Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Bapak kuatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anut. Karena itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.

Ketika aku beroleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka, bila ada kafilah yang hendak pergi ke Syam supaya memberi tahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku. Maka kuputus rantai yang membelenggu kakiku sehingga aku bebas. Lalu aku pergi bersama-sama kafilah itu ke Syam.

Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”

“Uskup yang menjaga “jawab mereka.

Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan Anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama Anda.”

‘Masuklah!” kata Uskup.

Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.

Belum begitu lama aku membaktikan diri kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong ummatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul tangan Uskup, disimpannya saja dalam perbendaharaannya tidak dibagi-bagikannya kepada fakir rniskin sehingga kekayaannya telah menumpuk sebanyak tujuh peti emas. Aku sangat membencinya karena perbuatannya yang memperkaya diri sendiri itu. Tidak lama kernudian iapun meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak mengu burkannya.

Aku berkata kepada mereka, ‘Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”

Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?” Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”

Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!”

Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Karena itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai Bapak! Kepada siapa Bapak mempercayakanku seandainya Bapak meninggal. Dan dengan siapa aku ha rus berguru sepeninggal Bapak?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah me ninggal itu.

Kata pendeta Mosul, “Tinggailah bersama saya.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Sebagaimana Bapak ketahui, mungkin ajal Bapak sudah dekat. Kepada siapa Bapak dapat mempercayakan ku seandainya Bapak sudah tak ada?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan pendeta Mosul.

Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!”

Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar kepadanya sampai dia wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Bapak sudah tahu perihalku Maka kepada siapa Bapak dapat mempercayakanku seandainya Bapak meninggal?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!”

Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku.

Katanya, “Tinggallah bersama kami!

Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Anda sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayakan seandainya Anda meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahirn. Kemudian dia akan pindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mau menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mau menerirna dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu serombongan saudagar Arab dan kabilah “kalb” lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mau membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”

Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.”

Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual mereka kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai budak belian. Pada suatu hari anak paman majikanku datang mengunjunginya, yaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya kepada majikanku. Aku pindah dengan majikanku yang baru ini ke Yatsrib. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi beliau masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang beliau 1ancarkan karena aku selalu sibuk dengan tugasku sebagai budak. Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah pindah ke Yatsrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak pamannya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah! Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan laki-laki dari Makkah yang menda’wahkan dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil karenanya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku bisa menimpa ma

1) Wadil Qura, sebuah lembah antara Madinah dan Syam.

2) Bani Qailah, yaitu kabilah Aus dan Khazraj

jikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar ANda? Cobalah kabarkan kembali kepadaku!”

Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasrnu kembali!”

Besok kuambil buah kurma seberapa yang dapat kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan Rasulullah.

Kataku “Aku tahu Anda orang saleh. Anda datang bersama-sama sahabat Anda sebagai perantau Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekah bagi Anda. Aku lihat Andalah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain.” Lalu aku sodorkan kurma itu kehadapannya.

Beliau berkata kepada para sahabatnya, “silakan kalian makan,...!” Tetapi beliau tidak menyentuh sedikit juga makanan itu apalagi untuk memakannya.

Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara ciri cirinya!”

Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang dapat kukumpulkan. Ketika Rasulullah pindah dari Quba’ ke Madinah, kubawa kurrna itu kepada beliau.

Kataku, “Aku lihat Anda tidak mau memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk Anda.”

Rasulullah memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan beliau mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sarna dengan dia. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi beliau di Baqi’, ketika beliau mengantarkan jenazah sahabat beliau untuk dimakamkan di sana. Aku melihat beliau memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada beliau, aku berjalan mengitari sambil menengok ke punggung beliau, untuk melihat cap kenabian yang dikatakan guruku. Agaknya beliau tahu maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti punggungnya, sehingga aku melihat dengan jelas cap kenabiannya.

Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku langsung menggumulnya, lalu kuciumi dia sambil menangis.

Tanya Rasulullah, “Bagaimana kabar Anda?”

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat beliau. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gernbira mendengar kisah pengalamanku.

Berbahagilah Salman Al Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.

Ahad, 27 Mac 2011

ABDULLAH BIN MAS’UD


Sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang ingin membaca AJ Qur’an dengan baik seperti diturunkan Allah, bacalah seperti bacaan lbnu Ummi ‘Abd (‘Abdullab bin Mas’ud)

Pada suatu hari, seorang anak gembala yang hampir baligh menghalau domba-domba gembalaannya di jalan jalan kedil perbukitan kota Makkah, jauh dan keramaian. Dia mengembalakan domba-domba kepunyaan seorang bangsawan Quraisy, ‘Uqbah bin Mu’aith.

Orang memanggil nama anak itu ‘Ibnu Ummi ‘Abd” Sesungguhnya namanya yang asli “ABDULLAH” dan nama bapaknya “MAS’UD”. Nama lengkapnya “ABDUL LAH BIN MAS’AD” -

Anak gembala itu pernah juga mendengar berita berita mengenai Nabi yang baru diutus, serta da’wah yang dilancarkannya. Tetapi gembala kecil ini tidak mem pedulikannya. Mungkin karena usianya yang masih kecil, dan karena jauhnya dan masyarakat Makkah, tempat dirnulainya da’wah tersebut.

Anak gembala ini rajin rnenggembalakan domba-domba majikannya. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat bersama domba ke tempat gembala, dan pulang setelah hri senja.

Hari itu, anak tersebut melihat di kejauhan dua orang laki-laki menuju ke arahnya. Keduanya. kelihatan sangat letih dan kehausan. Bibir dan kerongkongan mereka tampak kering. Ketika keduanya telah sampai ke dekat anak gembala tersebut, mereka memberi salam dan berkata, “Hai, Bocah! Berilah kami susu dombamu sekedar untuk menghilangkan haus.”

“Ma’af, Pak! Saya tidak dapat memberi Bapak karena domba-domba ini bukan kepunyaan saya. Saya hanya sebagai gembala”. jawabnya.

Kedua laki-laki tersebut tidak membantah jawaban anak gernbala itu. Bahkan di wajah keduanya jelas kelihatan mereka menyukai jawabannya. Seorang di antara keduanya berkata, “Bawalah kemari seekor domba betina yang belum kawin!”

Anak itu mengambil seekor anak domba, lalu dibawanya ke dekat mereka. Orang itu mernegang domba tersebut dan meraba-raba susunya dengan membaca “Basmallah “. Si anak gembala bingung, dan berkata kepada dirinya sendiri, “Mana mungkin anak domba dapat diperas air susunya!”

Tetapi sebentar kemudian susu anak domba itu membengkak, dan setelah itu air susunya memancar berlimpah-limpah. Laki-laki yang seorang lagi mengambil sebuah batu cekung lalu diisinya dengan susu dan diminurnnya berdua dengan kawannya. Kemudian anak itu diberinya pula dan mereka ketiganya minum bersama-sama. Anak itu hampir tidak percaya kepada apa yang dilihatnya dan dialaminya. “Ajaib sungguh’” kata anak gembala.

Setelah mereka minum sepuas-puasnya, orang yang penuh berkat itu berkata, “Berhenti!”

Sebentar kemudian air susu domba berhenti mengalir, dan teteknya kempes kembali seperti semula. Si anak gernbala berkata kepada orang yang penuh berkat, “Ajar kanlah kepada saya bacaan yang Tuan baca tadi.”

“Engkau anak pintar!” jawab orang luar biasa yang. penuh berkat itu

Kisah di atas adalah permulaan kisah “Abdullah bin Mas’ud dalam Islam. Orang yang penuh berkat itu tidak lain melainkan Rasulullah saw. Sedangkan kawannya ialah Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu. Mereka pergi ke perbukitan Makkah pada hari itu, menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak rnereka ingini karena tindakan Kaum Quraisy yang keterlaluan dan sok kuasa.

Sejak peristiwa itu, ‘Abdullah bin Mas’ud (si anak gembala) jatuh cinta kepada Rasulullah dan sahabatnya. Dia merasa terikat kepada keduanya. Sebaliknya Rasulullah kagum kepada anak itu. Walaupun dia seorang anak gembala, sehari-harian terjauh dari masyarakat ramai, tetapi dia cerdas, jujur, bertanggung-jawab, bersungguh-sungquh dan teliti.

Tidak berapa lama setelahnya, ‘Abdullah bin Mas’ud masuk Islam. Dia mendatangi Rasulullah dan memohon kepada beliau agar diterima menjadi pelayan beliau. Rasulullah menerimanya.

Sejak hari itu ‘Abdullah bin Mas’ud tinggal di rumah Rasulullah. Dia beralih pekerjaan dari gemba domba menjadi pelayan Utusan Allah dan Pemimpin Ummat

‘Abdullah bin Mas’ud senantiasa mendampingi Rasulullah bagaikan sebuah bayang-bayang dengan bendanya. Dia selalu menyertai beliau kemana pergi, di dalam rumah maupun di luar rumah. Dia membangunkan Rasulullah untuk shalat bila beliau tertidur, menyediakan air untuk beliau mandi, mengambilkan terompah apabila beliau hendak pergi, dan membenahinya apabila beliau pulang. Dia membawakan tongkat dan sikat gigi. Menutupkan pintu kamar apabila beliau masuk kamar hendak tidur.....

Bahkan Rasulullah mengizinkan ‘Abduliah memasuki kamar beliau jika perlu. Beliau mempercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia, tanpa kuatir rahasia tersebut akan terbuka. Karenanya, ‘Abdullah bin Mas’ud dijuluki orang dengan Shahibus Sirri Rasulullal, (pemegang rahasia Rasulullah).

‘Abdullah bin Mas’ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah. Karena itu tidak heran kalau dia menjadi seorang yang sempurna terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan Rasululiah kepadanya. Pendidikan Rasulullah kepadanya, diterapkan ‘Abdullah dalam dirinya dengan disiplin kuat dalam segala situasi dan kondisi. Sampai-sarnpai orang mengatakan, “karakter dan akhlak ‘Abdullah bin Mas’ud paling mirip dengan akhlak Rasul ullah “.

Di samping itu, dia belajar di Madrasah Rasulullah. Karena itu memang pantas dia menjadi sahabat yang sangat baik membaca Qur’án, sanqat paham maknanya, dan sangat ‘alim tentang syari’at Islam.

Sebuah berita kami sajikan untuk membuktikan hal itu.

Ketika Khalifah ‘Umar bin Khaththab berada di ‘Ara fah, tiba-tiba seorang laki-laki datang menghadap beliau seraya berkata, “Ya, Amirul Mu’minin! Saya datang dari Kufah sengaja untuk menghadap Anda. Di sana ada seorang yang mahir Al Qur’an seutuhnya di luar kepala. Bagaimana pendapat Anda tentang orang itu?”

‘Umar marah mendengar pertanyaan itu. Belum pernah dia semarah itu, sehingga dia menarik nafas panjang panjang.

“Siapa dia?” tanya ‘Umar.

‘Abdullah bin Mas’ud,”jawab orang itu.

Kemarahan ‘Umar mendadak padam. Seketika itu juga mukanya kembali cerah.

Kata ‘Umar, “Demi Allah! Setahu saya tidak ada lagi orang yang lebih ‘alim daripadanya dalam urusan itu. Akan saya ceritakan kepada Anda satu kisah mengenai nya. Pada suatu malam Rasulullah bercincang-bincang di rumah Abu Bakar membicarakan urusan kaum muslimin. Saya turut dalam pembicaraan tersebut. Selesai berbincang-bincang, Rasulullah pergi. Saya dan Abu Ba kar pergi pula mengikuti beliau. Tiba-tiba kami melihat seseorang — mula-mula tidak kami kenali — sedang shalat di masjid. Rasulullah berdiri mendengarkan bacaan orang itu. Kemudian beliau berpaling dan berkata kepada kami, “Siapa yang ingin membaca Qur’an dengari baik seperti diturunkan Allah, bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud).”

Kemudian ‘Abdullah duduk dan mendo‘a. Rasullullah rnengaminkan do’anya.

“Saya berkata dalam hati,” kata ‘Umar selanjutnya, “Demi Allah! Besok pagi saya akan mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud memberi kabar gembira kepadanya bahwa Rasulullah mengaminkan do’anya. Ketika saya mendatanginya besok pagi, kiranya Abu Bakar telah lebih dahulu menyampaikan kabar gembira itu kepada ‘Abdullah. Abu Bakar memang selalu lebih cepat daripada saya dalam soal kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud pernah berkata tentang pengetahuannya mengenai Kitabuflah (Al Qur’an) sebagai berikut:

“Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia! Tiada satu ayat pun dalam Al Qur’an, melainkan aku tahu di mana diturunkan dan dalam situasi bagaimana. Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada saya, niscaya saya datang belajar kepadanya.”

‘Abdullah bin Mas’ud tidak berlebihan dengan ucapannya itu. Cerita ‘Umar bin Khaththab di bawah ini memperkuat ucapan ‘Abdullah tersebut. -

Pada suatu malam ketika Khalifah ‘Umar bin Khathab sedang dalam suatu perjalanan, beliau bertemu dengan sebuah kafilah. Malam sangat gelap bagaikan beratap kemah, menutup pandangan setiap pengendara. ‘Abdullah bin Mas’ud berada dalarn kafilah tersebut.

Khalifah ‘Umar memerintahkan seorang ajudan supaya menanya kafilah.

“Hai, kafilah! Dari mana kalian?” teriaknya bertanya.

“Min fajjil ‘amiq” (dari lembah nan dalam), jawab ‘Abdullah.

“Hendak ke mana kalian?”

“Ke Baitul ‘Atiq” (ke rumah tua =Baitullah), jawab ‘Abdullah.

Kata ‘Umar, ‘Di antara mereka pasti ada orang yang sangat ‘alim.

` Kemudian diperintahkannya pula menanyakan, “Ayat Qur’an manakah yang paling agung?”

Jawab ‘Abdullah,

“(Allah, tiada Tuban selain Dia; Yang Maha Hidup Kekal, lagi terus menerus mengurus (rnakhluk-Nya): tidak mengantuk dan tidak pula tidur...). Al-Baqarah: 255).

Tanyakan pula kepada mereka, ayat Qur’an manakah yang lebih kuat hukumnya?” kata ‘Umar memerintah.

Jawab ‘Abdullah,

.

(Sesungguhnya Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi . kepada kaurn kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbualtn keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran)” (An Nahl; 16:9)

“Tanyakan kepada mereka, ayat Quran ma yang paling mencakup?” perintah ‘Umar.

Jawab Abdullah,

(“Barangsiapa mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula). (Al Zalzalah; 99:8).

“Tanyakan, ayat Al Qur’añ manakah yang memberi kabar takut?” perintah ‘Umar.

Jawab ‘Abdullah,

(Pahala dari Allah bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong. dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahaltn itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah).” (An Nisa’; 4:123)

“Tanyakan pula, ayat Qur’an manakah yang memberikan harapan?” perintah ‘Umar.

(Katalahl Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah; sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (Az Zumar; 39:53), jawab ‘Abdullah.

Kata ‘Umar, “Tanyakan! Adakah dalam kafilah kalian ‘Abdullah bin Mas’ud?”

Jawab mereka, “Ya, ada!!”

‘Abdullah bin Mas’ud bukan hanya sekedar Qari (ahli baca) terbaik, atau seorang yang sangat ‘alim, atau seorang ‘abid yang sangat zuhud, tetapi dia juga seorang pemberani, kuat dan teliti. Bahkan dia seorang pejuang (mujahid) terkemuka. Dia tercatat sebagai muslim pertama yang mengumandangkan Al Qur’an dengan suara merdu dan lantang.

Pada suatu han para sahabat Rasulullah berkumpul di Makkah: Kata mereka, ‘Demi Allah! Kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat Qur’an kita baca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?”

Jawab ‘Abdullah,”Saya sanggup membacakannya di hadapan mereka dengan suara keras.”

Kata mereka, “Tidak Jangan karnu! Kami kuatir kalau kamu yang membacakannya. Hendaknya seorang yang mempunyai famili, yang dapat mernbela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy

“Biarlah saya saja Allah pasti melindungi saya!” jawab ‘Abdullah tak gentar.

Besok pagi kira-kira waktu dhuha, ketika kaum Quraisy sedang duduk-duduk sekitar Ka’bah, ‘Abdullah bin Mas’ud berdiri di Maqarn Ibrahim, la1u dengan suara lantang dan merdu dibacanya Al Qur ‘an:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan yang Maha Pernurah

Yang mengajarkan Al Qur’an..

Yang nienciptakan manusia

Yang mengajarkannya pandai berbicara ) (Ar Rah man: 1 — 4).

Bacaan ‘Abdullah yang merdu dan lantang itu kedengaran oleh kaum Quraisy di sekitar Ka’bah. Mereka terkesima merenungkannya. Kemudian mereka bertanya sesamanya, “Apakah yang dibaca Ibnu Ummi ‘Abd (‘Abdullah bin Mas’ud)?”

“Sialan dia! Dia membaca ayat-ayat yang dibawa Si Muhammad!” kata mereka setelah sadar.

Lalu mereka berdiri serentak dan memukuli ‘Abdullah. Tetapi ‘Abdullah terus saja membaca sampai habis. Kemudian ‘Abdullah pulang menemui para sahabat dengan muka babak beIur dan berdarah.

“Inilah yang kami kuatirkan terhadapmu!” kata para sahabat kepada ‘Abdullah.

Jawab ‘Abdullah “Demi Allah! Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu tarnbah kecil di mata saya. Jika Anda menghendaki: besok pagi akan saya baca pula di hadapan mereka.

“Jangan! sudah cukup dahulu! Bukankah engkau sudah memperdengarkan kepada mereka ayat-ayat yang sangat mereka benci?” jawab mereka.

‘Abdullah bin Mas’ud hidup sampai zaman Khalifah ‘Utsman bin Affan memerintah. Ketika ‘Abdulah hampir meninggal, Khalifah ‘Utsman datang menjenguknya.

“Sakit yang engkau rasakan, hai ‘Abdullah?” tanya Khalifah

“Dosa-dosaku,” jawab ‘Abdullah.

“Apa yang engkau inginkan?” tanya ‘Utsman.

“Rahmat tuhanku,” jawab Abdullah. “Tidalkkah engkau ingin supaya kusuruh orang membawakan gaji-gajimu yang tidak pernah engkau ambil selama beberapa tahun?” tanya ‘Utsman.

“Saya tidak membutuhkannya,” jawab ‘Abdullah.

“Bukankah engkau mempunyai anak-anak yang harus hidup layak sepeninggal engkau?” kata ‘Utsman.

“Saya tidak kuatir anak-anak saya akan hidup miskin. Saya menyuruh mereka membaca surat Al Waqi ‘ah setiap malam. Karana saya mendengar Rasulullah bersabda, “sesiapa membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”

Pada suatu malam, ‘Abdullah bin Mas’ud pergi menemui Tuhannya dengan tenang. Lidahnya basah dengan dzikruilah, membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Dia telah berpulang ke rahmatullah.

Radhiyallahu ‘anhu. Amin!!!

Ahad, 27 Februari 2011

ABU UBAIDAH BIN JARRAH


Wajahnya selalu berseri. Matanya bersinar. Tubuhnya tinggi kurus. Bidang bahunya kecil. Setiap mata senang melihat kepadanya. Dia selalu ramah tamah, sehingga setiap orang merasa simpati kepadanya.

Di sampmg sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu’ (rendah hati) dan sangat pemalu. Tetapi bila menghadapi suatu urusan penting, dia sangat cekatan ba gaikan singa jantan bertemu musuh.

Dialah kepercayaan ummat Muhammad. Namanya‘Amir bin ‘Abdillah bin Jarrah Al Fihry Al Qurasyi”, dipanggil “Abu ‘Ubaidah”;

‘Abdullah bin ‘Umar pernah bercerita tentang sifat sifat yang mulia, katanya: “Ada tiga orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlak dan sangat pe malu. Bila berbicara, mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara kepada mereka, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu ialah: Abu Bakar Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Abu ‘U’baidah bin Jarrah.”

Abu ‘Ubaidah termasük kelompok pertama masuk Islam. Dia masuk Islam ditangan Abu Bakar Shiddiq, sehari sesudah Abu Bakar masuk Islam. Waktu itu beliau menemui Rasulullah saw. bersama-sama dengan ‘Abdur Rah man bin ‘Auf, ‘Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Karena itu mereka tercatat sebagai tiang-tiang pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.

Dalarn kehidupannya sebagai muslim, Abu ‘Ubaidah mengalami masa penindasan yang keras dan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin di Makkah, sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama-sama kaum muslimin yang mula-mula, merasakan tindakan kekerasan, kesulitan dan kesedihan, yang tak pernah dirasakan oleh pengikut agama-agama lain di muka bumi ini. Walaupun beqitu, dia tetap teguh menerima segala macam cobaan. Dia tetap setia dan membenarkan Rasulullah pada setiap situasi dan kondisi yang berubah-ubah.

Bahkan ujian yang dialami Abu ‘Ubaidah dalam perang Badar, melebihi segala macam kekerasan yang pernah kita alami.

Abu ‘Ubaidah turut berperang dalam perang Badar. Dia menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati Tetapi tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan menge jarnya kemana dia lari. Terutama seorang laki-laki, mengejar Abu ‘Ubaidah dengan sangat beringas kemana saja. Tetapi Abu ‘Ubaidah selalu menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan orang itu. Orang itu tidak mau berhenti mengejarnya.

Setelah lama berputar-put akhirnya Abu ‘Ubaidah terpojok. Dia waspada menunggu orang yang mengejarnya.

Ketika orang itu tambah dekat kepadanya, dalam posisi yang sangat tepat, Abu ‘Ubaidah mengayunkan pedangnya tepat di kepala lawan. Orang itu jatuh terbanting dengan kepala belah dua. Musuh itu tewas seketika dihadapan Abu ‘Ubaidah. Siapakah lawan Abu ‘Ubaidah yang sangat beringas itu?

Di atas telah dikatakan, tindak kekerasan terhadap kaum muslirnin telah melampaui batas. Mungkin Anda ternganga bila mengetahui musuh yang tewas di tangan Abu ‘Ubaidah itu tak lain ialah “Abdullah bin Jarrah” ayah kandung Abu ‘Ubaidah.

Abu ‘Ubaidah tidak membunuh bapaknya. Tetapi membunuh kemuysrikan yang bersarang dalam pribadi bapaknya. Berkenaan dengan kasus Abu ‘Ubaidah tersebut, Allah swt. berfirman sebagai tersebut

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, saling berkasih-sa yang dengan orang-orang yang rnenentang Allah dan Rasul Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Al Mujadalah: 22)

Ayat di atas tidak menyebabkan Abu ‘Ubaidah membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama. Orang yang mendapat gelar ‘kepercayaan ummat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan besi berani menarik logam di sekitarnya.

Muhammad bin Ja’far menceritakan, “Pada suatu ketika para utusan kaum Nasrani datang menghadap kepada Rasulullah. Kata mereka, “Ya, Aba Qasim! Kirimlah bersama kami seorang sahabat Anda yang Anda pandang cakap menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum muslimin.”

Jawab Rasulullah, ‘Datanglah nanti petang, saya akan mengirimkan bersama kalian “orang kuat yang terpercaya”

Kata ‘Umar bin Khaththab, “Saya pergi shalat Zhuhur lebih cepat dan biasa. Saya tidak ingin tugas itu diserahkan kepada orang lain, karena saya ingin mendapatkan gelar “orang kuat terpercaya”. Sesudah selesai shalat Zhuhur, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Saya agàk menonjolkan diri supaya Rasulullah melihat saya. Tetapi beliau tidak melihat lagi kepada kami. Setelah beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, beliau memanggil seraya berkata kepadanya, ‘Pergilah engkau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan.”

Maka pergilah Abu ‘Ubaidah dengan para utusan Nasrani tersebut, menyandang gelar “orang kuar yang terpercaya”.

Abu ‘Ubaidah bukanlah sekedar orang kepercayaan semata-mata. Bahkan dia seorang yang berani memikul kepercayaan yang dibebankan kepadanya. Keberan itu ditunjukkannya dalam berbagai peristiwa dan tugas yang dipikulkan kepadanya.

Pada suatu hari Rasulullah saw. mengirim satu pasukan yang terdiri dari para sahabat untuk menghadang kafilah Quraisy. Beliau mengangkat Abu ‘U,baidah menjadi kepala pasukan, dan membekali mereka hanya dengan sekarung kurma. Tidak lebih dri itu.

Karena itu Abu ‘Ubaidah membagi-bagikan kepada para prajuritnya sehari sebuah kurma bagi seorang. Mereka mengulum kurma itu seperti menghisap gula-gula. Sesudah itu mereka minum. Hanya begitu mereka makan untuk beberapa hari.

Waktu kaum muslimin kalah dalam perang Uhud, kaum musyrikin sedemikian bernapsu ingin membunuh Rasulullah saw. Waktu itu, Abu ‘Ubaidah termasuk sepuluh orang yang selalu membentengi Rasulullah. Mereka mempertaruhkan dada mereka ditembus panah kaum musyrikin, demi keselamatan Rasulullah saw. Ketika pertempuran telah usai, sebuah taring Rasulullah ternyata patah. Kening beliau luka, dan di pipi beliau tertancap dua mata rantai baju besi beliau. Abu Bakar menghampiri Rasulullah hendak mencabut kedua mata rantai itu dan pipi beliau.

Kata Abu ‘Ubaidah, “Biarlah saya yang mencabut nya!”

Abu Bakar menyilakan Abu ‘Ubaidah. Abu ‘Ubaidah kuatir kalau Rasulullah kesakitan bila dicabutnya dengan tangan. Maka digigitnya mata rantai itu kuat-kuat de ngan giginya lalu ditariknya. Setelah mata rantai itu tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal satu. Kernudian digigit nya pula mata rantai yang sebuah lagi. Setelah tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal pula sebuah lagi.

Kata Abu Bakar, “Abu ‘Ubaidah orang ompong yang paling cakap.”

Abu ‘Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau, sampai beliau wafat.

Dalam musyawarah pemilihan Khalifah yang pertama (Yaumu s-saqifah), ‘Umar bin Khaththab mengulurkan tangannya kepadà Abu ‘Ubaidah seraya berkata, “Saya memilih Anda dan bersumpah setia dengan Anda. Karena saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:.

“Sesungguhnya tiap-tiap ummat mempunyai orang dipercayai. Orang yang paling dipercaya dan ummat ini adalah Anda (Abu ‘Ubaidah).”

Jawab Abu ‘Ubaidah, “Saya tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar). walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”

Akhfrnya mereka sepakat memilih Abu Bakar inenjadi Khalifah Pentama, sedangkan Abu ‘Ubaidah menjadi penasihat dan pembantu utama bagi Khalifah.

Setelah Abu Bakar, jabatan khalifah pindah ke tangan ‘Umar bin Khatthab Al Faruq. Abu ‘Ubaidah selalu dekat dengan ‘Umar dan tidak pernah membangkang perintahnya, kecuali sekali. Tahukah Anda, perintah Khalifah ‘Umar yang bagaimanakah yang tidak dipatuhi Abu Ubaidah?

Peristiwa itu terjadi ketika Abu ‘Ubaidah bin Jarrah memimpin tentara muslimin menaklukkan wilayah Syam (Syria). Dia berhasil rnemperoleh kemenangan demi ke menangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk ke bawah kekuasaannya sejak dan tepi sungai Furat di sebelah Timur sampai ke Asia Kecil di sebelah Utara

Sementara itu, di negeri Syam berjangkit penyakit menular (Tha’un) yang amat berbahaya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga korban berjatuhan. Khalifah ‘Umar datang dan Madinah , sengaja hendak menemui Abu ‘Ubaidah. Tetapi ‘Umar tidak dapat masuk kota karena penyakit yang sedang mengganas itu. Lalu ‘Umar menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah sebagai berikut:

“Saya sangat penting bertemu dengan Saudara. Tetapi saya tidak dapat menemui Saudara karena wabak penyakit sedang berjangkit dalam kota. Karena itu bila surat ini sampai ke tangan Saudara malarn hari, saya harap Saudara berangkat menemui saya di luar kota sebelum Subuh. Dan bila surat ini sampai ke tangan siang hari, saya harap Saudara berangkat sebelum hari petang.”

Setelah surat Khalifah tersebut dibaca Abu ‘Ubaidah, dia berkata, “Saya tahu maksud Amirul Mu’minin memanggil saya. Beliau ingin supaya saya menyingkir dari pe nyakit yang berbahaya ini.”

Lalu dibalasnya surat Khalifah, katanya;

“Ya, Amirul Mu’minin! Saya mengerti maksud Khalifah memanggil saya. Saya berada di tengah-tenciah tentara muslimin, sedang bertugas memimpin mereka. Saya tidak ingin meninggalkan mereka dalam bahaya yang mengancam hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka, sehingga Allah memberi keputusan kepada kami semua (selamat atau binasa). Maka bila surat ini sampai ke tangan Anda, ma’afkanlah saya tidak dapat memenuhi permintaan Anda, dan beri izinlah saya untuk tetap tinggal bersama-sama mereka.”

Setelah Khalifah ‘Umar selesai membaca surat tersebut, beliau menangis sehingga air matanya meleleh ke pipinya. Karena sedih dan terharu melihat Umar menangis, maka orang yang disamping beliau bertanya, “Ya, Arniral Mu’ minin! Apakah Abu ‘Ubaidah wafat?”

“Tidak!” jawab ‘Umar. “Tetapi dia berada di ambang kematian.”

Dugaan Khalifah tersebut tidak salah. Karena tidak lama sesudah itu Abu ‘Ubaidah terserang wabak yang sangat berbahaya. Sebelum kematiannya Abu ‘Ubaidah berwasiat kepada seluruh prajuritnya:

“Saya berwasiat kepada Anda sekalin. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa berada dalam bahagia.

“Tetaplah menegakkan shalat. Laksanakan puasa Ramadhan. Bayar sedekah (zakat). Tunaikan ibadah haji dan ‘umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama ka lian. Nasihati pemerintah kalian, jangan dibiarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia.

Walaupun seseorang bisa berusia panjang sarnpai senibu tahun, namun akhinnya dia akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal.

Katanya, “Hai, Mu’adz! Sekarang engkau menjadi Imam (Panglima)!” Tidak lama kemudian, ruhnya yang suci berangkat ke rahmatullah. Dia telah tiada di dunia fana. Jasadnya tidak lama pula habis dimakan masa. Tetapi amal pengorbanannya akan tetap hidup selama-lamanya.

Mu’adz bin Jabal berdiri di hadapan jama’ahnya, lalu dia berpidato:

“Ayyuhannaas! (Hai sekalian manusia!) Kita semua sama-sama merasa sedih kehilangan dia (Abu ‘Ubaidah). Demi Allah! Saya tidak melihat orang yang lapang dada melebihi dia. Saya tidak melihat orang yang lebih jauh dan kepalsuan, selain dia. Saya tidak tahu; kalau ada orang yang lebih menyukai kehidupan akhirat melebihi dia. Dan saya tidak tahu, kalau ada orang yang suka memberi nasihat kepada umum melebihi dia. Karena itu marilah kita memohon rahmat Allah baginya, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pula kepada kita semua.

Amin!!

Rabu, 2 Februari 2011

Isteri


Seorang lelaki telah menginap di sebuah hotel di KL. Terdapat sebuah komputer di dalam bilik hotel itu. Dia pun mengambil keputusan untuk menghantar e-mail kepada isterinya.

Malangnya, dia telah tersalah taip alamat e-mail isterinya dan tanpa mengetahui kesilapan itu, dia pun terus menghantar e-mail tersebut. Di sebuah rumah di Kedah pula, seorang janda baru sampai ke rumahnya selepas pulang daripada majlis pengebumian suaminya. Janda tersebut mengambil keputusan untuk menyemak e-mailnya untuk melihat sekiranya terdapat mesej daripada saudara-mara dan teman-temannya. Selepas membaca e-mail pertama itu si janda tersebut pun pengsan. Anak lelaki janda tersebut pun bergegas ke bilik ibunya dan mendapati ibunya terlentang di lantai dan dia pun membaca mesej di dalam skrin komputer:


To : Isteri kesayanganku
Date : 16 May 2002

Subject : Abang telah selamat sampai

Abang tahu Sayang pasti akan terkejut dengan kehadiran mesej ini. Mereka telah menyediakan komputer di sini pada ketika ini dan kita boleh menghantar e-mail kepada sesiapa sahaja terutama insan kesayangan kita.

Abang telah selamat sampai dan telah menginap dengan aman di sini. Abang lihat semuanya telah di sediakan di sini untuk kedatanganmu pada hari esok.Semoga berjumpa denganmu nanti, Sayang. Abang harap perjalananmu ke sini nanti lebih bermakna seperti apa yang telah Abang lalui ketika ini.

Khamis, 27 Januari 2011

‘ABDULLAH BIN JAHSY AL ASADY


(Orang pertama bergelar Amirul Mukminin)

Sahabat yang kita bicarakan ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang erat dengan Rasulullah saw. Dia termasuk kelompok orang-orang yang pertama masuk Islam (As Sabiqunal Awwalun). Dia putera bibi Rasulullah, Umai,uah binli Abdul Muihihalib. Di samping itu dia ipar Rasulullah. Karena saudara perempuannya, Zainab hush Jahsy, isteri Nabi saw., salah seorang ibu orang-orang mukmin (Ummahatul Mu ‘rninin).

Dia orang pertama dipercayai Rasulullah membawa petaka (bendera) Islam pertama. Dia pulalah orang perta ma yang dipanggilkan “Amirul Mu’minin.”

Nama lengkapnya “ABDULLAH BIN JAHSY AL ASADY”

‘Abdullah bin Jahsy Al Asady masuk Islam sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah Al Arqam. Rumah itu menjadi terkenal, karena ketika pemeluk Islam masih dapat dihitung dengan jan, Rasulullah sering berkumpul di sana dengan para sahabat yang seiman. Karena itu jelas ‘Abdullah termasuk kelompok pertama orang-orang yang masuk Islam.

Ketika Rasulullah mengizinkan para sahabat hijrah ke Madinah, ‘Abdullah bin Jahsy tercatat sebagai orang kedua yang hijrah. Yaitu sesusah Abu Salamah. Mereka hij rah menyelamatkan agama dan diri mereka dari tekanan dan penganiayaan kaum, kafir Quraisy. Mereka hijrah ke pada Allah dan karena Allah. Untuk itu ditinggalkannya famili, karib kerabat, harta kekayaan dan kampung hala man yang dicintainya, karena mereka lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Bagi ‘Abdullah bin Jahsy, hijrah ke Madinah bukanlah merupakan pengalaman baru. Karena sebelum itu dia telah pernah hijrah ke Habsyah beserta sebagian keluarga nya Kali ini dia hijrah lebih lengkap dan menyeluruh. Dia hijrah ke Madinah beserta isteri, anak-anak, saudara saudaranya sebapak, laki-laki dan perempuan, tua muda, dan anak-anak. Rumah tangganya adalah rumah tangga Islam dan kabilahnya kabilah Islam.

Setelah mereka keluar dan Makkah, kampung hala man rnereka yang ditinggal kelihatan sedih dan memilukan. Sunyi dan hampa bagaikan tak pernah didiami. Tidak terdengar lagi di sana suara anak-anak dan orang bercakap -cakap.

Belum begitu jauh mereka meninggalkan Makkah, para pembesar Quraisy patroli keliing kota memeriksa keadaan dan siapa di antara kaum muslimin yang hijrah. Para pembesar yang turut memeriksa itu antara lain Abu Jahil dan ‘Utbah bin Rabi’ah.

‘Utbah menengok perkampungan Banu Jahsy. Dia melihat pintu-pintu rumah bagaikan meratap menghempas-hempaskan diri ditiup angin. Anginpun turut menangis menyanyikan lagu sunyi ditinggalkan penduduk yang biasa ceria dalam kedamaian.

“Perkampungan Bani Jahsy meratap sunyi ditinggalkan penduduknya,” kata ‘Utbah kepada Abu Jahil.

“Mari kita periksa!” kata Abu Jahil

Abu Jahil masuk ke rumah ‘Abdullah bin Jahsy. Rumahnya terhitung paling bagus dan dia terbilang penduduk terkaya. Melihat harta yang banyak ditinggal begitu saja oleh ‘Abdullah bin Jahsy, timbul tamak Ab Jahil. Diambilnya harta itu semua, dirampasnya menjadi miliknya. Tak ketinggalan pula harta keluarga yang lain-lain, saudara saudara ‘Abdullah bin Jahsy.

Ketika ‘Abdullah mendengar kabar perbuatan Abu Jahil yang terkutuk itu, dia mengadu kepada Rasulullah.

“Tidak relakah engkau, hai ‘Abdullah? Allah menggantinya dengan rumah yang lebih baik di surga?”, jawab Rasulullah.

“Tentu saja rela, ya Rasulullah!” kata ‘Abdullah. “Nah.. itulah untukmu!” kata Rasulullah meyakinkan. Maka sejuklah hati ‘Abdullah.

‘Abdullah bin Jahsy merasa tenteram tinggal di Madinah, setelah ditempa dengan berbagai penderitaan selama hijrah ke Habsyah. Dia merasa damai bersama saudara-sau dara se-Islam, kaum Anshar, setelah mengalami tekanan dan penganiayaan di tengah-tengah bangsanya sendiri, kaum Quraisy. Walaupun harus bekerja keras untuk mem pertahankan hidup beserta keluarga besarnya, namun dia selalu gembira dan bersemangat. Tetapi sayang hal itu tidak lama dinikmatinya. Allah Ta’ala masih mengujiya dengan ujian yang paling berat sejak dia masuk Islam. Murtadkah dia karena ujian itu? Kembalikah dia kepada agama nenek moyangnya? Marilah kita simak kisahnya menerima cobaan yang pahit itu.

Rasulullah saw. memilih delapan orang yang dipandang cakap untuk membentuk ‘askar (pasukan tentara). Yaitu sebagai langkah pertama pembangunan tentara Islam. Di antara mereka terpilih ‘Abdullah bin Jahsy dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Dalam pengarahannya Rasulullah mengatakan, “Angkatlah orang yang paling sabar menderita haus dan lapar di antara kalian untuk menjadi “Amir” (komandan)!”

Mereka sepakat mengangkat ‘Abdullah bin Jahsy menjadi Amir. Sebuah bendera diikatkan Rasulullah dengan tangan beliau pada tangkainya, kemudian diserahkannya kepada “Abdullah bin Jahsy dengan resmi. Itulah bendera pertama dalam Islam. Dan ‘Abdullah bin Jah sy orang pertama pula dipercaya membawa bendera itu.

Sesuai dengan jabatan dan tugasnya melola perta hanan, keamanan dan ketertiban kaum muslimin, maka dia digelari “Amir”. Karena itu di apulalah orang per tamd bergelar “Amirul Mu’Minin I)

Pada suatu hari setelah dia dilantik menjadi Amir, Rasulullah menugaskan ‘Abdullah dan pasukannya dengan sebuah Surat Perintah melakukan expedisi (patroli) dengan tugas pengintaian. Beliau melarang membuka Surat Perintah tersebut, melainkan sesudah dua hari perjalanan. Setelah dua hari perjalanan, ‘Abdullah membuka Surat Perintah dan membaca:

1) Dalam riwayat lain. orang yang pertama diserahi membawa bendera Islam ia Hamzah bin Abdul Muthathalib, paman Rasulullah.

“Bila engkau membaca surat ini, terus berjalan sampai ke Makkah, antara Thaif dan Makkah. Amati dengan seksama gerak-gerik kaum Quraisy, dan segera melapor kepada kami!”

“Saya dengar dan saya patuh, hai Nabi!” kata ‘Abdullah selesai membaca surat tersebut.

Maka dikumpulkannya anggota pasukannya seraya berkata, “Rasulullah memerintahkan saya pergi ke Makkah. Kita diperintahkan melakukan pengintaian terhadap kuam Quraisy, mengamat-amati gerak-gerik mereka dengan saksama, dan senantiasa melapor kepada beliau. Beliau melarang saya memaksa kalian. Karena itu siapa ingin syahid, silakan terus menyertai saya dalam tugas ini, dan siapa takut, pulanglah sekarang! Kalian tidak akan dihukum atau disakiti.”

“Segala perintah kami dengar dan kami patuhi, ya Rasulullah! Kami terus menyertai Anda sesuai dengan perintah Rasulullah!” jawab mereka serentak dan bersema ngat.

Tiba di Nakhlah mereka langsung memeriksa medan dan menyiapkan pos pengintaian. Kemudian ‘Abdullah membagi-bagi tugas untuk mengintai dan mengamat amati kegiatan kaum Quraisy.

Sementara mereka bersiap-siap demikian, tiba-tiba terlihat di kejauhan sebuah kafilah Quraisy terdiri tempat orang. Yaitu ‘Amr bin Hadhramy, Hakam bin Kaysan, ‘Utsman bin ‘Abdullah, dan saudaranya Al Mughirah. Mereka membawa barang dagangannya seperti kulit, anggur, dan sebagainya, yaitu barang-barang yang biasa diperdagangkan kaum Qiraisy.

‘Abdullah bin Jahsy bermusyawarah dengan pasukan nya, apakah kafilah itu akan diserang atau tidak. Hari itu adalah hari terakhir bulan Haram. Jika kafilah itu diserang, berarti mereka menyerang dalam bulan Haram. maka berarti pula melanggar kehormatan bulan Haram, dan mengundang kemarahan seluruh bangsa Arab. Jika mereka dibiarkan lewat, mereka masuk ke Tanah Haram (Makkah); berarti membiarkan mereka masuk ke tempat aman, karena disana dilarang berperang.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang dan merampas harta mereka. Mereka berhasil menewaskan seorang anggota rombongan Quraisy. Dua orang tertawan dan seorang lagi meloloskan diri.

‘Abdullah bin Jahsy dan pasukannya membawa tawan an dan harta rampasan ke Madinah. Setelah mereka tiba di hadapan Rasulullah, ternyata beliau tidak membenarkan tindakan mereka. Beliau marah karena mereka bertindak di luar perintah (tidak disiplin).

“Demi Allah! Saya tidak memerintahkan kalian menyerang, merampas, menawan, apalagi membunuh. Saya memerintahkan mencari berita mengenai orang-orang Qu raisy, mengamat-amati gerak-gerik mereka, kemudian melaporkannya kepada saya,” kata Rasulullah marah.

Rasulullah menangguhkan putusan mengenai kedua tawanan dan harta rampasan. Beliau tidak mengusiknya sementara menunggu putusan dan Allah. “Abdullah bin

2) Bulan Haram ialah bulan Dzi Qaidah, DzuI Hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan tersebut orang Arab dilarang (haram) berperang. Jahsy dan pasukan diberhentikan. Mereka jelas bersalah karena tidak disiplin, dan bertindak di luar perintah Rasulullah. Hukuman itu menyebabkan mereka serba sulit. Kaum muslimin mencela mereka, sehingga mereka merasa dipencilkan. Kedamaian yang dinikmati ‘Abdullah sejak hijrah ke Madinah, kini bertukar dengan kegelisahan, kesedihan, penyesalan dan rasa tertekan. Bila berpapasan dengan kaum muslimin, mereka berkata mencemooh, “Inikah dia yang melanggar perintah Rasullullah ?“

Kesedihan dan penyesalan semakin mencekam ketika mereka ketahui kaum Quraisy mengambil kesempatan dari kasus tersebut. Orang-orang Quraisy meningkatkan tekanan mereka terhadap Rasulullah. Mereka menggembar-gemborkan di kalangan kabilah-kabilah Arab: “Muhammad menghalalkan bulan Haram.. Muhammad me numpahkan darah dalam bulan Haram. Muhammad merampas dan menawan....”

‘Abdullah menyadari, karena kecerobohannya dia telah memberikan senjata yang ampuh kepada kaum Qu raisy untuk merangkul kabilah-kabilah Arab bersimpati kepada mereka untuk memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Bahkan dapat mengundang agresi mereka secara fisik. -

Tidak dapat dibayangkan bagaimana beratnya beban moril yang ditanggung ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan kawan. Dia terjepit antara kawan dan lawan. Allah menguji imannya kembali dengan ujian yang tidak ringan, sampai ujian itu mencapai titik tertentu yang ditetapkan Allah. Namun begitu imannya tidak goyang. Dia selalu tobat dan istighfar kepada Allah Ta’ala. Setelah ujian itu sampai di puncaknya, padahal mereka senantiasa tobat dan istighfar, maka Allah memberi kabar gembira melalui Nabi-Nya. Allah mengampuni tindakan mereka dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah:

Mereka hertanya kepadainu perihal berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan Haram adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi masuk Masjidil Haram dan mengusir pendnduk dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah. Dan membuat fiitnah lebih besar dosanya daripada memunuh. Mereka tidak akan henti-hentinya memerangi kamu sampai meeka berhasil mengembalikan kamu kepada kekafiran. seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dan agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran. maka mereka itulah orang yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “ (Al-Baqarah, 21).

Sesudah ayat yang mulia itu turun, tenanglah hati Rasulullah. Harta rampasan disita untuk Baitul Mal. Kedua tawanan diminta wang tebusan. Beliau menyatakan setuju dengan tindakan ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan, sesuai dengan ketentuan Allah.

Karena kasus mereka merupakan kasus besar dalam kehidupan kaum Muslimin, maka rampasan tercatat dalam sejarah Islam sebagai rampasan pertama. Musuh yang mereka tewaskan, kaum musyrik pertama yang tertumpah darahnya di tangan kaum muslimin. Tawan an mereka adalah tawanan pertama yang jatuh ke tangan kaum muslimin. Bendera pasukan mereka, bendera pertama yang diikatkan Rasulullah saw., yaitu bendera Islam. Amir (komandan) pasukan, ‘Abdullah bin Jahsy, orang pertama dipanggilkan “Amirul Mu’minin.”

Tidak berapa lama kemudian terjadi perang Badar. Ujian bagi ‘Abdullah bin Jahsy agaknya belum selesai. Dia cidera dalam perang tersebut. Sesudah itu menyusul pula perang Uhud. Suatu peristiwa yang dialami ‘Ab dullah dengan sahabatnya Sa’ad bin Abi Waqqash, merupakan kenang-kenangan yang tak dapat mereka lupakan dalam peperangan ini. Marilah kita simak cerita Sa’ad yang mengisahkan pengalamannya dengan ‘Abdullah.

Kata Sa’ad, “Ketika terjadi perang Uhud, ‘Abdullah bin Jahsy menemui saya seraya bertanya, “Tidak mendo’akah engkau?”

“Tentu...! “jawabku.

Kami berpencil ke sebuah pojok, lalu saya mendo’a:

“Ya, Rabbi! Jika saya bersua musuh, persuakanlah saya dengan orang yang .sangat jahat dan buas. Saya akan bertempur melawannya. Berilah saya kemenangan, sehingga dia tewas di tangan saya dan kurampas perlengkapannya.” -

‘Abdulllah bin Jahsy mengaminkan do’a saya. Kemu dian dia mendo’a pula;

‘Wahai Allah! Berilah saya rezki seorang musuh yang sangat jahat dan buas. Saya akan melawannya demi Engkau, tetapi kemudian dia kembali menewaskan saya. Kemudian dipotongnya hidung dan telinga saya. Bila esok saya menemui Engkau, Engkau bertanya kepada saya,





“Mengapa hidung dan telingamu buntung, hai ‘Abdul lah?” Saya menjawab, “Karena membela Agama dan Rasul Engkau!” Lalu Engkau berkata, “Shadaqta... (engkau benar).”

Kata Sa’ad selanjutnya, “Do’a ‘Abdullah bin Jahsy lebih bagus daripada do’a saya. Saya temui dia petang hri, kudapati dia telah tewas sesuai dengan do’anya. Hidung dan telinganya buntung dan digantungkan orang pada sebatang pohon dengan seutas tali.”

Allah Ta’ala memperkenankan do’a ‘Abdullah bin Jahsy. Allah memuliakannya sebagai syahid, berbareng an dengan pamannya Sayyidus Syuhada, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasulullah menguburkan mereka berdua dalam satu kuburan. Air mata Rasulullah yang suci mengalir menyirami kubur mereka, menambah harumnya darah syahid yang tertumpah melumuri jasad.

Radhiyallahu ‘anhuma. Amin!!!

“Bila engkau membaca surat ini, terus berjalan sampai ke Makkah, antara Thaif dan Makkah. Amati dengan seksama gerak-gerik kaum Quraisy, dan segera melapor kepada kami!”

“Saya dengar dan saya patuh, hai Nabi!” kata ‘Abdullah selesai membaca surat tersebut.

Maka dikumpulkannya anggota pasukannya seraya berkata, “Rasulullah memerintahkan saya pergi ke Makkah. Kita diperintahkan melakukan pengintaian terhadap kuam Quraisy, mengamat-amati gerak-gerik mereka dengan saksama, dan senantiasa melapor kepada beliau. Beliau melarang saya memaksa kalian. Karena itu siapa ingin syahid, silakan terus menyertai saya dalam tugas ini, dan siapa takut, pulanglah sekarang! Kalian tidak akan dihukum atau disakiti.”

“Segala perintah kami dengar dan kami patuhi, ya Rasulullah! Kami terus menyertai Anda sesuai dengan perintah Rasulullah!” jawab mereka serentak dan bersema ngat.

Tiba di Nakhlah mereka langsung memeriksa medan dan menyiapkan pos pengintaian. Kemudian ‘Abdullah membagi-bagi tugas untuk mengintai dan mengamat amati kegiatan kaum Quraisy.

Sementara mereka bersiap-siap demikian, tiba-tiba terlihat di kejauhan sebuah kafilah Quraisy terdiri tempat orang. Yaitu ‘Amr bin Hadhramy, Hakam bin Kaysan, ‘Utsman bin ‘Abdullah, dan saudaranya Al Mughirah. Mereka membawa barang dagangannya seperti kulit, anggur, dan sebagainya, yaitu barang-barang yang biasa diperdagangkan kaum Qiraisy.

‘Abdullah bin Jahsy bermusyawarah dengan pasukan nya, apakah kafilah itu akan diserang atau tidak. Hari itu adalah hari terakhir bulan Haram. Jika kafilah itu diserang, berarti mereka menyerang dalam bulan Haram. maka berarti pula melanggar kehormatan bulan Haram, dan mengundang kemarahan seluruh bangsa Arab. Jika mereka dibiarkan lewat, mereka masuk ke Tanah Haram (Makkah); berarti membiarkan mereka masuk ke tempat aman, karena disana dilarang berperang.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang dan merampas harta mereka. Mereka berhasil menewaskan seorang anggota rombongan Quraisy. Dua orang tertawan dan seorang lagi meloloskan diri.

‘Abdullah bin Jahsy dan pasukannya membawa tawan an dan harta rampasan ke Madinah. Setelah mereka tiba di hadapan Rasulullah, ternyata beliau tidak membenarkan tindakan mereka. Beliau marah karena mereka bertindak di luar perintah (tidak disiplin).

“Demi Allah! Saya tidak memerintahkan kalian menyerang, merampas, menawan, apalagi membunuh. Saya memerintahkan mencari berita mengenai orang-orang Qu raisy, mengamat-amati gerak-gerik mereka, kemudian melaporkannya kepada saya,” kata Rasulullah marah.

Rasulullah menangguhkan putusan mengenai kedua tawanan dan harta rampasan. Beliau tidak mengusiknya sementara menunggu putusan dan Allah. “Abdullah bin

2) Bulan Haram ialah bulan Dzi Qaidah, DzuI Hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan tersebut orang Arab dilarang (haram) berperang. Jahsy dan pasukan diberhentikan. Mereka jelas bersalah karena tidak disiplin, dan bertindak di luar perintah Rasulullah. Hukuman itu menyebabkan mereka serba sulit. Kaum muslimin mencela mereka, sehingga mereka merasa dipencilkan. Kedamaian yang dinikmati ‘Abdullah sejak hijrah ke Madinah, kini bertukar dengan kegelisahan, kesedihan, penyesalan dan rasa tertekan. Bila berpapasan dengan kaum muslimin, mereka berkata mencemooh, “Inikah dia yang melanggar perintah Rasullullah ?“

Kesedihan dan penyesalan semakin mencekam ketika mereka ketahui kaum Quraisy mengambil kesempatan dari kasus tersebut. Orang-orang Quraisy meningkatkan tekanan mereka terhadap Rasulullah. Mereka menggembar-gemborkan di kalangan kabilah-kabilah Arab: “Muhammad menghalalkan bulan Haram.. Muhammad me numpahkan darah dalam bulan Haram. Muhammad merampas dan menawan....”

‘Abdullah menyadari, karena kecerobohannya dia telah memberikan senjata yang ampuh kepada kaum Qu raisy untuk merangkul kabilah-kabilah Arab bersimpati kepada mereka untuk memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Bahkan dapat mengundang agresi mereka secara fisik. -

Tidak dapat dibayangkan bagaimana beratnya beban moril yang ditanggung ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan kawan. Dia terjepit antara kawan dan lawan. Allah menguji imannya kembali dengan ujian yang tidak ringan, sampai ujian itu mencapai titik tertentu yang ditetapkan Allah. Namun begitu imannya tidak goyang. Dia selalu tobat dan istighfar kepada Allah Ta’ala. Setelah ujian itu sampai di puncaknya, padahal mereka senantiasa tobat dan istighfar, maka Allah memberi kabar gembira melalui Nabi-Nya. Allah mengampuni tindakan mereka dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah:

Mereka hertanya kepadainu perihal berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan Haram adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi masuk Masjidil Haram dan mengusir pendnduk dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah. Dan membuat fiitnah lebih besar dosanya daripada memunuh. Mereka tidak akan henti-hentinya memerangi kamu sampai meeka berhasil mengembalikan kamu kepada kekafiran. seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dan agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran. maka mereka itulah orang yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “ (Al-Baqarah, 21).

Sesudah ayat yang mulia itu turun, tenanglah hati Rasulullah. Harta rampasan disita untuk Baitul Mal. Kedua tawanan diminta wang tebusan. Beliau menyatakan setuju dengan tindakan ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan, sesuai dengan ketentuan Allah.

Karena kasus mereka merupakan kasus besar dalam kehidupan kaum Muslimin, maka rampasan tercatat dalam sejarah Islam sebagai rampasan pertama. Musuh yang mereka tewaskan, kaum musyrik pertama yang tertumpah darahnya di tangan kaum muslimin. Tawan an mereka adalah tawanan pertama yang jatuh ke tangan kaum muslimin. Bendera pasukan mereka, bendera pertama yang diikatkan Rasulullah saw., yaitu bendera Islam. Amir (komandan) pasukan, ‘Abdullah bin Jahsy, orang pertama dipanggilkan “Amirul Mu’minin.”

Tidak berapa lama kemudian terjadi perang Badar. Ujian bagi ‘Abdullah bin Jahsy agaknya belum selesai. Dia cidera dalam perang tersebut. Sesudah itu menyusul pula perang Uhud. Suatu peristiwa yang dialami ‘Ab dullah dengan sahabatnya Sa’ad bin Abi Waqqash, merupakan kenang-kenangan yang tak dapat mereka lupakan dalam peperangan ini. Marilah kita simak cerita Sa’ad yang mengisahkan pengalamannya dengan ‘Abdullah.

Kata Sa’ad, “Ketika terjadi perang Uhud, ‘Abdullah bin Jahsy menemui saya seraya bertanya, “Tidak mendo’akah engkau?”

“Tentu...! “jawabku.

Kami berpencil ke sebuah pojok, lalu saya mendo’a:

“Ya, Rabbi! Jika saya bersua musuh, persuakanlah saya dengan orang yang .sangat jahat dan buas. Saya akan bertempur melawannya. Berilah saya kemenangan, sehingga dia tewas di tangan saya dan kurampas perlengkapannya.” -

‘Abdulllah bin Jahsy mengaminkan do’a saya. Kemu dian dia mendo’a pula;

‘Wahai Allah! Berilah saya rezki seorang musuh yang sangat jahat dan buas. Saya akan melawannya demi Engkau, tetapi kemudian dia kembali menewaskan saya. Kemudian dipotongnya hidung dan telinga saya. Bila esok saya menemui Engkau, Engkau bertanya kepada saya,





“Mengapa hidung dan telingamu buntung, hai ‘Abdul lah?” Saya menjawab, “Karena membela Agama dan Rasul Engkau!” Lalu Engkau berkata, “Shadaqta... (engkau benar).”

Kata Sa’ad selanjutnya, “Do’a ‘Abdullah bin Jahsy lebih bagus daripada do’a saya. Saya temui dia petang hri, kudapati dia telah tewas sesuai dengan do’anya. Hidung dan telinganya buntung dan digantungkan orang pada sebatang pohon dengan seutas tali.”

Allah Ta’ala memperkenankan do’a ‘Abdullah bin Jahsy. Allah memuliakannya sebagai syahid, berbareng an dengan pamannya Sayyidus Syuhada, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasulullah menguburkan mereka berdua dalam satu kuburan. Air mata Rasulullah yang suci mengalir menyirami kubur mereka, menambah harumnya darah syahid yang tertumpah melumuri jasad.

Radhiyallahu ‘anhuma. Amin!!!

Jahsy dan pasukan diberhentikan. Mereka jelas bersalah karena tidak disiplin, dan bertindak di luar perintah Rasulullah. Hukuman itu menyebabkan mereka serba sulit. Kaum muslimin mencela mereka, sehingga mereka merasa dipencilkan. Kedamaian yang dinikmati ‘Abdullah sejak hijrah ke Madinah, kini bertukar dengan kegelisahan, kesedihan, penyesalan dan rasa tertekan. Bila berpapasan dengan kaum muslimin, mereka berkata mencemooh, “Inikah dia yang melanggar perintah Rasullullah ?“

Kesedihan dan penyesalan semakin mencekam ketika mereka ketahui kaum Quraisy mengambil kesempatan dari kasus tersebut. Orang-orang Quraisy meningkatkan tekanan mereka terhadap Rasulullah. Mereka menggembar-gemborkan di kalangan kabilah-kabilah Arab: “Muhammad menghalalkan bulan Haram.. Muhammad me numpahkan darah dalam bulan Haram. Muhammad merampas dan menawan....”

‘Abdullah menyadari, karena kecerobohannya dia telah memberikan senjata yang ampuh kepada kaum Qu raisy untuk merangkul kabilah-kabilah Arab bersimpati kepada mereka untuk memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Bahkan dapat mengundang agresi mereka secara fisik. -

Tidak dapat dibayangkan bagaimana beratnya beban moril yang ditanggung ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan kawan. Dia terjepit antara kawan dan lawan. Allah menguji imannya kembali dengan ujian yang tidak ringan, sampai ujian itu mencapai titik tertentu yang ditetapkan Allah. Namun begitu imannya tidak goyang. Dia selalu tobat dan istighfar kepada Allah Ta’ala. Setelah ujian itu sampai di puncaknya, padahal mereka senantiasa tobat dan istighfar, maka Allah memberi kabar gembira melalui Nabi-Nya. Allah mengampuni tindakan mereka dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah:

Mereka hertanya kepadainu perihal berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan Haram adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi masuk Masjidil Haram dan mengusir pendnduk dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah. Dan membuat fiitnah lebih besar dosanya daripada memunuh. Mereka tidak akan henti-hentinya memerangi kamu sampai meeka berhasil mengembalikan kamu kepada kekafiran. seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dan agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran. maka mereka itulah orang yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “ (Al-Baqarah, 21).

Sesudah ayat yang mulia itu turun, tenanglah hati Rasulullah. Harta rampasan disita untuk Baitul Mal. Kedua tawanan diminta wang tebusan. Beliau menyatakan setuju dengan tindakan ‘Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawan, sesuai dengan ketentuan Allah.

Karena kasus mereka merupakan kasus besar dalam kehidupan kaum Muslimin, maka rampasan tercatat dalam sejarah Islam sebagai rampasan pertama. Musuh yang mereka tewaskan, kaum musyrik pertama yang tertumpah darahnya di tangan kaum muslimin. Tawan an mereka adalah tawanan pertama yang jatuh ke tangan kaum muslimin. Bendera pasukan mereka, bendera pertama yang diikatkan Rasulullah saw., yaitu bendera Islam. Amir (komandan) pasukan, ‘Abdullah bin Jahsy, orang pertama dipanggilkan “Amirul Mu’minin.”

Tidak berapa lama kemudian terjadi perang Badar. Ujian bagi ‘Abdullah bin Jahsy agaknya belum selesai. Dia cidera dalam perang tersebut. Sesudah itu menyusul pula perang Uhud. Suatu peristiwa yang dialami ‘Ab dullah dengan sahabatnya Sa’ad bin Abi Waqqash, merupakan kenang-kenangan yang tak dapat mereka lupakan dalam peperangan ini. Marilah kita simak cerita Sa’ad yang mengisahkan pengalamannya dengan ‘Abdullah.

Kata Sa’ad, “Ketika terjadi perang Uhud, ‘Abdullah bin Jahsy menemui saya seraya bertanya, “Tidak mendo’akah engkau?”

“Tentu...! “jawabku.

Kami berpencil ke sebuah pojok, lalu saya mendo’a:

“Ya, Rabbi! Jika saya bersua musuh, persuakanlah saya dengan orang yang .sangat jahat dan buas. Saya akan bertempur melawannya. Berilah saya kemenangan, sehingga dia tewas di tangan saya dan kurampas perlengkapannya.” -

‘Abdulllah bin Jahsy mengaminkan do’a saya. Kemu dian dia mendo’a pula;

‘Wahai Allah! Berilah saya rezki seorang musuh yang sangat jahat dan buas. Saya akan melawannya demi Engkau, tetapi kemudian dia kembali menewaskan saya. Kemudian dipotongnya hidung dan telinga saya. Bila esok saya menemui Engkau, Engkau bertanya kepada saya,





“Mengapa hidung dan telingamu buntung, hai ‘Abdul lah?” Saya menjawab, “Karena membela Agama dan Rasul Engkau!” Lalu Engkau berkata, “Shadaqta... (engkau benar).”

Kata Sa’ad selanjutnya, “Do’a ‘Abdullah bin Jahsy lebih bagus daripada do’a saya. Saya temui dia petang hri, kudapati dia telah tewas sesuai dengan do’anya. Hidung dan telinganya buntung dan digantungkan orang pada sebatang pohon dengan seutas tali.”

Allah Ta’ala memperkenankan do’a ‘Abdullah bin Jahsy. Allah memuliakannya sebagai syahid, berbareng an dengan pamannya Sayyidus Syuhada, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasulullah menguburkan mereka berdua dalam satu kuburan. Air mata Rasulullah yang suci mengalir menyirami kubur mereka, menambah harumnya darah syahid yang tertumpah melumuri jasad.

Radhiyallahu ‘anhuma. Amin!!!

Ahad, 2 Januari 2011

kecing mase


Pada suatu hari di Hospital Kota Bharu...
Seorang lelaki berusia lingkungan 70-an sedang menunggu untuk
mendapatkan rawatan. Di sebelahnya duduk seorang lelaki muda
juga dengan tujuan yang sama.
Lelaki muda menyapa

" Pok cik ni sakit gapo?"
"Kecing manih. Lamo doh."

Tiba-tiba kakitangan hospital kelihatan cemas dan mengusung masuk
seorang pesakit yang tidak sedarkan diri. Pak cik tua tersebut bertanya
orang muda di sebelahnya,

"Tu bakpo pulok?"
"Kecemase"
"Oohh rupanya kecing mase lebih teruk dari kecing manih
Related Posts with Thumbnails
Ya Allah... seandainya hari ini aku sedang memimpin, pimpinlah aku untuk memimpin, seandainya aku sedang mentarbiyyah, tarbiyyahlah aku untuk aku mentarbiyyah, tapi ya Allah seandainya aku sedang mencintai manusia tetapkan hatiku untuk mendahului cintaMu dari cinta manusia.. Hidup berjuang untuk berkorban,Syahid jadi impian