Rabu, 27 Oktober 2010

ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY


“Sepantasnyalah setiap kaum muslimin mencium kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.

Nah Aku yang memulai !“ (‘Umar bin Khatbthab).

Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah saw. bernama: ‘ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY.

Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab lainnya. Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan ‘Abdullah bin Hudzhafah menemui dua orang raja besar dunia pada zamannya, yaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja Romawi. Pertemuan ‘Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan mewarnai perjalanan sejarah itu sèndiri.

Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun keenam Hijriyah, yaitu ketika Rasulullah saw. mulai mengembangkan Da’wah Islam ke seluruh pelosok dunia. Ketika itu beliau berda’wah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab), mengajak mereka masuk Islam.

Rasullulah saw. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka kenal selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum mengenal seluk-beluk pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke sana mengajak raja-raja asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka menanggalkan kemegahan dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang dianut oleh suatu bangsa yang kemaren menjadi rakyat taklukan mereka.

Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh bisa kembali, berarti suatu kelahiran baru. Karena itu Rasulullah saw. mengum pulkan para sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.

Seperti biasa, mula-mula Rasulullah saw. memuji Allah swt. dan membaca tasyahhud. Sesudah itu beliau berkata:

“Sesungguhnya aku telah merencanakan hendak mengirim beberapa orang di antara kalian kepada raja raja ‘Ajam. Karena itu janganlah kalian menolak gagasan ku, seperti Bani Israil menolak gagasan Isa bin Maryam.”

Jawab para sahabat, “Kami senantiasa siap melaksanakan segala perintah Rasulullah. Kami bersedia dikirim ke. mana saja dihendaki Rasulullah.”

Rasulullah menunjuk enam orang sahabat untuk menyampaikan surat beliau kepada raja-raja ‘Arab dan ‘Ajam. Salah seorang di antara mereka ialah ‘Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy, dipilih beliau untuk menyampaikan surat kepada Kisra Abrawiz, Maharaja Persia.

‘Abdullah bin Hudzafah telah menyiapkan kendaraannya untuk berangkat. Anak-anak dan keluarganya dititipkannya kepada para sahabat. Kemudian dia berangkat ke tujuan, mengemban tugas dan Rasulullah dengan semangat dan tanggung jawab penuh. Gunung yang tinggi didakinya; lurah yang dalam dituruninya. Dia benjalan seorang diri, tiada berteman selain Allah swt.

Akhirnya ‘Abdullah bin Hudzafah tiba di ibu kota Persia. Dia minta izin masuk untuk bertemu dengan Kisra. ‘Abdullah memberitahukan kepada pengawal, bahwa dia utusan Rasulullah untuk menyampaikan surat kepada Kisra. Pengawal memberi tahu Kisra, ada utusan membawa surat untuk Baginda.

Kisra memanggil segala pembesar supaya hadir ke majlis Kisra. Kemudian Kisra mengizinkan ‘Abdullah bin Hudzafah masuk menghadap baginda di majlis yang serba gernilang itu.

‘Abdullah menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam, tetapi kepalanya tegak, jalannya tegap. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan Islam. Di dalam hatinya menyala kekuasaan Iman.

Tatkala Kisra melihat ‘Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawal supaya menenima surat yang dibawa ‘Abdullah. Tetapi ‘Abdullah menolak memberikannya kepada pengawal.

Kata ‘Abdullah, “Jangan...! Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan Kisra tanpa perantara Aku tidak mau menyalahi perintah Rasulullah”

Kata Kisra kepada pengawal, “Biarkan dia mendekat kepadaku!”

‘Abdullah menghampiri Kisra, kemudian surat itu diberikannya ketangan Kisra sendiri. Kisra memanggil sekretaris berkebangsaan ‘Arab, berasal dari Hirah.’) Kemudian Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:

“Dan Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra.

Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk....”

Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api ke marahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Hal itu ialah karena Rasulullah menyebut nama beliau sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.

Kisra berteriak, “Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku....! padahal dia budakku...!”

Lalu diperintahkannya mengusir ‘Abdullah bin Hudzafah dari majlis.

‘Abdullah bin Hudzafah keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas. Tetapi tidak lama ‘Ab dullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, ‘Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.”

Lalu dengan sgap dia melompat naik kendaraannya, dan berpacu secepat-cepatnya.

Setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan ‘Abdullah kembali. Tetapi ‘Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari ‘Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan. Mereka melacak ‘Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah ‘Arab. Tetapi ‘Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka.

Setibanya ‘Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.

Mendengar laporan ‘Abdullah, Rasulullah berkata ‘

(Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!)

Kisra menulis surat kepada Badzan, wakil baginda di Yanian untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.

Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia yang dipertuan. Badzan mengirim dua orang yang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau. Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu.

Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.

Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”

Kemudian para pedagang itu meneruskan perjalanan mereka ke Makkah. Setibanya di Makkah, mereka menyiarkan berita gembira kepada penduduk Makkah. Kata mereka, “Tenanglah kalian...! Kisra akan membunuh si Muhammad, dan melindungi kalian dan kejahatannya.”

Kedua utusan Badzan terus ke Madinah. Mereka langsung menemui Rasulullah dan menyampaikan surat Badzan kepada beliau:

Kata mereka, Kisra, Maharaja Persia mengirim surat kepada Raja kami, Badzan, memerintahkan kami menemui Anda. Kisra memerintahkan kami supaya membawa Anda bersama-sama dengan kami menghadap baginda. Jika Anda berkenan pergi bersama-sama kami, Kisra mengatakan, itulah yang sebaik-baiknya bagi Anda, karena baginda tidak akan menghukum Anda. Tetapi jika Anda mengabaikan perintah Baginda, Anda tentu sudah tahu, baginda sangat berkuasa untuk membinasakan Anda!”

Rasulullah saw. tersenyum-senyum mendengar perkataan utusan Badzan.

Beliau berkata kepada mereka, “Sebaiknya Tuan-tuan beristirahat lebih dahulu sampai besok. Besok pagi Tuan tuan boleh kembali ke sini!”

Besok pagi kedua utusan itu datang kembali menemui Rasulullah, sesuai dengan janji.

Kata mereka, “Sudah siapkah Anda berangkat bersama-sama dengan kami menemui Kira?”

Jawab Rasulullah, ‘ tidak dapat lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini Kisra telah dibunuh oleh anaknya sendiri “Syirwan”, pada jam sekian, detik sekian, hari dan bulan itu.”

Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah saw. dengan mata terbelalak keheranan.

“Sadarkah Anda dengan ucapan Anda?” tanya mereka. “Bolehkan kami tulis ucapan Anda itu untuk Badzan?”

“Silakan...! Bahkan boleh Tuan-tuan tambahkan, bahwasanya agamaku akan mencapai seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada di bawah kekuasaannya akan saya serahkan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri kuangkat menjadi raja bagi rakyatnya.” jawab Rasulullah yakin.

Kedua utusan Badzan meninggalkan Rasulullah saw. Mereka kembali menghadap Badzan. Mereka melapor kepada Badzan pertemuannya dengan Rasulullah saw., dan menyampaikan pesan beliau kepadanya.

Kata Badzan, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sesungguhnya dia seorang Nabi. Jika tidak, ucapannya itu hanya mimpi belaka.”

Tidak berapa lama kemudian, tibalah surat Syirwan kepada Badzan.

Kata Syirwan, “Kisra telah saya bunuh. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menindas rakyat kami. Para bangsawan kami habiskan. Wanita-wanita mereka kami tawan. Dan harta benda mereka kami rampas. Maka bila suratku ini telah engkau baca, kamu dan rakyatmu hendaklah menyatakan tunduk kepadaku!”

Selesai membaca surat itu, Badzan mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, mulai saat ini dia masuk Islam - Mendengar pengumumannya itu, maka Islam pula segala pembesar dan orang-orang keturunan Persia yang berada di Yaman.

Itulah kisah pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kisra, Maharaja Persia.

Nah...! Bagaimana pula kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung, Maharaja Rum?

Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kaisar Agung, terjadi pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab Al Faruq. Kisahnya merupakan kisah yang amat mengagumkan.

Pada tahun kesembilan-belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar mengirim angkatan perang kaum muslimin memerangi kerajaan Rum. Dalam pasukan itü terdapat seorang perwira senior, ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy,

Kaisar Rum telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara muslimin. Sumber kekuatan mereka ialah Iman yang membaja, dan kedalaman ‘aqidah, serta kebera nian mereka menghadang maut. Mati fisabifflah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka.

Kaisar memerintahkan kepada para perwiranya, “Jika kalian berhasil menawan tentara muslimin, jangan kalian bunuh mereka. Tetapi bawa ke hadapanku!” Ditakdirkan Allah, ‘Abdullah bin Hudzafah tertawa. ‘Abdullah dibawa mereka ke hadapan Baginda Kaisar.

Kata mereka, “Tawanan ini adalah sahabat Muhammad. Dia termasuk sahabat senior, dari kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Dia tertawan, lalu kami bawa ke hadapan Paduka.”

Lama juga kaisar memperhatikan ‘Abdullah bin Hudzafah. Sesudah itu baru dia berkata, “Saya hendak menawarkan sesuatu kepada engkau.”

“Apa yang hendak Anda tawarkan?” tanya Abdullah.

‘Maukah engkau masuk agama Nasrani? Jika engkau mau, saya bebaskan engkau, kemudian saya beri pula hadiah besar,” kata Kaisar.

‘Abdullah bernafas dalam-dalam, lalu menjawab:

‘Yaah ...., aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran Anda,” kata ‘Abdullah mantap.

Kata Kaisar, “Saya lihat engkau seorang perwira yang pintar. Jika engkau mau menerima tawaranku, saya angkat engkau menjadi pembesar kerajaan, dan saya bagi kekuasaan saya dengan engkau.”

‘Abdullah yang diborgol itu tersenyum. Kemudian ia berkata: “Demi Allah! Seandainya Anda berikan kepadaku semua kerajaan Anda, ditambah dengan semua kerajaan ‘Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad agak sebentar saja, niscayalah aku tidak dapat menerimanya.”

Kata Kaisar, “Kalau begitu, saya bunuh engkau!”

Jawab ‘Abdullah, “Silakan...! Lakukanlah sesuka Anda!”

‘Abdullah disuruhnya ikat di kayu salib. Kemudian diperintahkannya tukang panah memanah lengan ‘Abdullah.

Sesudah itu Kaisar bertanya, “Bagaimana...? Maukah engkau masuk agama Nasrani?”

“Tidak!” kata ‘Abdullah.

‘Panah kakinya!” perintah Kaisar.

Maka dipanah orang pula kakinya.

“Nah! Maukah engkau pindah agama?” tanya Kaisar membujuk

‘Abdullah tetap menolak.

Sesudah itu Kaisar menyuruh hentikan siksaan dengan panah, lalu ‘Abdullah diturunkan dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalam dan diletakkan orang di atas tungku berapi. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dua orang tawanan muslim. Seorang di antaranya disuruh nya lemparkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian, daging orang itu hancur sehingga keluar tulang belulangnya.

Kaisar menoleh kepada ‘Abdullah, dan membujuknya masuk Nasrani. Tetapi ‘Abdullah menolak lebih keras. Setelah Kaisar putus asa, diperintahkannya melemparkan ‘Abdullah ke dalam kuali. Ketika pengawal menggiring ‘Abdullah ke dekat kuali, ‘Abdullah menangis.

Para pengawal mengatakan kepada Kaisar, ‘Dia menangis, Paduka!”

Kaisar menduga, tentu ‘Abdullah menangis karena takut mati.

Kata Kaisar, “Bawa dia kembali kepadaku!”

‘Abdullah berdiri kembali di hadapan Kaisar.

Kaisar menanyakan apakah ‘Abdullah mau menjadi Nasrani. Dengan Iman yang kokoh kuat, ‘Abdullah tetap menolak bujukan Kaisar.

Kata Kaisar, “Celaka...! Mengapa engkau menangis?”

Jawab Abdullah, “Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati di medan tempur perang fisabiillah. Ternyata kini, aku akan mati konyol dalam kuali.”

“Maukah engkau mencium kepalaku? Nanti kubebaskan engkau!” kata Kaisar dengan angkuh.

Jawab Abdullah, “bebas beserta semua kawan-ka wanku tawanan muslim?”

Jawab Kaisar, “Ya, saya bebaskan engkau berserta semua tawanan muslim.”

‘Abdullah berpikir sejenak, “Aku harus mencium kepala musuh Allah. Tetapi aku dan kawan-kawan yang tertawan bebas. Ah.. tidak ada ruginya.”

“Abdullah menghampiri Kaisar, lalu diciumnya kepala musuh Allah itu.

Sesudah itu Kaisar memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua tawanan muslim untuk dibebaskan dan diserahkan kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.

Setibanya ‘Abduflah bin Hudzafah di hadapan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, dilaporkannya kepada beliau semua yang dialaminya serta pembebasannya berikut sejumlah tentara muslimin yang tertawan. Khalifah sangat gembira mendengarkan laporan ‘Abdullah. Ketika Khalifah memeriksa prajurit muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama ‘Abdullah, beliau berkata, “Sepantasnyalah setiap orang muslim mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah. Nah...! Aku yang memulai....!”

Khalifah berdiri seketika itu juga, lalu mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy.

Isnin, 18 Oktober 2010

Rasulullah...

hanya "ummati yang rasulullah sebut sebelum menghembuskan nafas terakhir



"Ummati"...ini lah rasul mulia yang amat sayang kepada ummatnya.

Sabtu, 9 Oktober 2010

Jangan Membina Tarbiyyah Yang Terbengkalai


Mamat merupakan seorang pekerja binaan yang baru berpengalaman selama setahun. Dia merasa iri hati dengan kejayaan majikannya yang merupakan seorang kontraktor yang berjaya. Mamat ada juga la dengar-dengar tentang permulaan dan jatuh bangunnya majikannya itu suatu ketika dahulu. Majikannya tu nama Pak Hasan. Sebelum berjaya menjadi kontraktor berjaya,Pak Hasan juga seorang pekerja binaan seperti Mamat.Namun beliau terus mengorak langkah dengan menyambung pelajaran dan mencari pengalaman dari orang-orang yang berjaya. Beliau juga selalu berguru dan meminta pendapat dari bekas2 majikannya yang terdahulu. setelah hampir 15 tahun mengumpul pengalaman,ilmu dan modal,barulah beliau memulakan perniagaannya dengan membuka sebuah pembinaan.

Namun bagi Mamat,penantian selama 15 tahun ni terlalu lama untuk berjaya. baginya dia boleh buat pinjaman bank untuk memulakan perniagaannya.nanti cepatlah dia jadi orang kaya seperti Pak Hassan. Dengan hanya berbekalkan pengalaman selama setahun,dia mula membuat pinjaman bank dan membuka syarikatnya sendiri.nak di jadikan cerita,maka dapatlah dia satu projek membina satu bangunan rumah kedai. maka denga ilmu setahunnya itu dia memulakan projek itu.dia mula mengambil pekerja-pekerja yang tak berpengalaman(sebab nak bayar murah ler). Hampir setahun masa berlalu,projek tak juga siap-siap,banyak barang rosak kerana pekerjanya tidak mahir dalam bab membinan bangunan ni.akhirnya modalnya habis. Dia tidak mampu lagi untuk membayar gaji pekerjanya.

bulan demi bulan terus berlalu.Mamat semakin susah.Bank yang dulu jadi tempat dia bergantung seolah-olah menjadi musuhnya,hari-hari call minta di bayar balik hutang dulu.dengar kata mereka nak failkan kes ni ke mahkamah. Mamat makin pening. lepas tu pulak,pihak kerajaan juga nak saman dia kerana tidak dapat menyiapkan bangunan seperti yang telah dipersetujui. Mamat makin pening.

Pagi tadi dia terbaca dalam akhbar,semalam pihak polis buat serbuan di bangunan terbengkalai yang dia bina dulu.rupa-rupanya bangunan tu dah jadi sarang penagih dadah.Pihak kementerian kesihatan juga dok sibuk forgin sebab kawasan bangunan terbengkalai tu dah jadi tempat pembiakan nyamuk aedes. Fuhhh..pening. inilah kesannya jika hanya semangat tanpa ilmu....

Begitulah jua Perkaderan dan tarbiyyah....

Sekarang ramai dari kalangan kita begitu bersemangat dalam membuka tempat baru untuk tujuan pertarbiyyahan tanpa mempersiapkan diri sendiri dengan pelbagai ilmu untuk mencapai matlamat pentarbiyyah.contohnya Ilmu AGAMA,ilmu pengurusan,dan lain-lain yang akan menjadi tiang kepada sesuatu organisasi pertabiyyan yang baru dibina.

Namun,banyak organisasi ini terbengkalai samada di peringkat sekolah,kampus,masyarakat mahupun negara.Ini kerana kebanyakan para pembina organisasi ini melakukan pecutan yang amat laju di awal pembinaan organisasi ini tanpa mempersiapkan diri sendiri.akhirnya mereka keletihan lantaran terlalu banyak ujian,dan akhirnya organisasi yang dibina ditinggalkan begitu sahaja.Maka lahir lah golongan kader yang separuh siap ditarbiyyah.ada yg dah dilengkapi dengan ilmu pidato,tapi takde ilmu agama.maka kader baru ni hebat berpidato tanpa berpandukan agama.Bahkan ada Kader separuh siap ini menjadi penentang semula kepada perjuangan ni.

Ada seorang muslimat bertanya kepada seorang Ustaz, "Ustaz,kenapa ustaz lambat sangat nak mulakan organisasi tarbiyyah seperti yang kita rancang?". Jawab ustaz tersebut,"enti pernah sedarkan budak nakal macam tu?" sambil menunjukkan jari kepada seorang budak nakal yang baru darjah 5. Muslimat itu menggelangkan kepala. "kalau budak kecil tu enti tidak ada ilmu untuk menyedarkan dia,yakinkah enti menjadi printis kepada sebuah perjuangan amat besar cabarannya? enti tak pernah mengkaji potensi diri,potensi mad',kekuatan serta kelemahan yang kita ada.maka siapkan dulu diri enti dengan memahami beberapa aspek penting dalam menggerakkan sebuat organisasi baru.Ia tidak semudah menggerakkan organisasi yang sedia ada."

Kita juga jangan menjadi golongan isti'jal yang ingin mendapat hasil yang cepat setelah kita mentarbiyyah,dan jangan pula jangan menjadi golongan yang terlalu lembab sehingga tidak serius dalam menjalankan gerak kerja islam. Berjuanglah dengan solat dan sabar. Laluilah jalan perjuangan ini sepertimana Jalan perjuangan Rasulullah dan sahabat dahulu,kerana itulah sunnah perjuangan yang sebenar

Ana ingin berkongsi dan mengupas perkongsian yang pernah diberikan oleh seorang murabbi yang cukup memberi kesan kepada diri ana tentang elemen atau unsur Tarbiyyah yang mana Tarbiyyah perlu mendasari 4 perkara ini. Iaitu:

1. Ruh

2. Akal

3. Hati

4. Nafsu.


Dalam pentarbiyyah seseorang individu itu samada kepada diri sendiri atau individu lain tarbiyah perlu menyentuh ke empat-unsur ini untuk merubah tingkahlaku@ peribadi seseorang itu ke arah yang lebih baik. Tanpa 4 elemen ini pentarbiyyahan seseorang individu itu tidak berkesan


Ruh


Unsur yang yang paling penting sekali ialah ruh. Lemahnya ruh mendorong jiwamati, hati kotor, nafsu bermaharaja dalam diri, akal mudah dipandu oleh nafsu dan seterusnya ketidakseimbangan dalam pembentukan diri seseorang individu. Ini kerana apabila ruh kuat kuat nafsu akan lemah. Ruh perlu diperkuatkan dengan amalan-amalan harian yang berterusan dan istimrar bagi melemahkan nafsu.


Tanpa ruh yang kuat akan wujudlah individu yang nampak wara’ tetapi hati kotor dan busuk, pandai berkata-kata dan berilmu tinggi tetapi nafsu kuat, berilmu tetapi tidak mengamalkannya dan sebagainya. Oleh itu pentarbiyyahan ruhiah perlu diberi penekanan yang tegas dalam pembentukan seorang individu muslim.


Sebagai contoh kita lihat semasa zaman Rasulullah, peringkat pentarbiyyahan pertama yang Rasulullah terima dari ALLAH adalah pentarbiyyahaan syadid dari sudut pembinaan ruhiah yang kuat di mana disebutkan dalam surah Al-muzammil. Allah telah mewajibkan Nabi pada awal kenabian untuk berqiamulail beserta modul yang Allah telah gariskan iaitu 1) dilakukan selama setahun 2) dilakukan ½ malam atau kurang sedikit atau 2/3 malam. Jelas disini kepentingan Tarbiyyah ruhiah itu dalam pembentukan individu muslim yang kuat sehingga tarbiyyah pertama yang Nabi Muhammad terima adalah pembinaan kekuatan ruh.



Akal


Akal juga merupakan elemen yang penting bagi manusia. Kerana beramal tanpa tanpa ilmu kita akan sesat. Akal penting bagi memandu dan hidup. Akal yang waras adalah akal yang boleh membezakan yang baik dan buruk dan boleh mengarahkan pemiliknya ke arah kebaikan


Pembinaan akal boleh dicapai melalui thaqafah yang mana merangkumi ilmu, pengetahuan dan kebudayaan. Thaqafah ini boleh dicapai dengan ceramah, kuliah, pembacaan, pengalaman dan lain-lain. Thaqafah ini meliputi pelbagai bidang ilmu dan pengetahuan termasuk, isu-isu semasa, siasah dan sebagainya. Thaqafah perlu digarap dan diimplimentasikan serta dipraktikkan ke arah perubahan tingkahlaku yang lebih baik. Pembinaan kefahaman dalam pembinaan individu muslim itu juga penting kerana tanpa kefahaman yang betul kita akan sesat. Kerana ini Imam Hassan Al-Banna menggariskan kefahaman sebagai perkara yang pertama dalam rukun baiah. Oleh, kefahaman yang sempurna dan berdasarkan islam yang sebenar perlu diterapkan dalam diri bagi membentukan individu muslim yang berperibadi muslim dan faham tugas sebagai muslim .


Namun, seseorang individu itu tetap perlu mempunyai ruhiah yang kuat sebagai gandingan akal bagi membentuk individu yang sempurna. Tanpa ruhiah yang kuat manusia mungkin akan lemah dan segala ilmu pengetahuan yang ada tidak digunakan dengan sebaiknya demi islam dan mungkin akhirnya akan lupus begitu sahaja dari kotak minda kerana tidak diamalkan.



Hati


Hati juga merupakan elemen tidak kurang pentingnya dalam pembentukan individu muslim. Hati kotor, hati rosak maka rosaklah diri. Hati merupakan pusat dalam diri yang berperanan penting dalam mengawal akhlak dan peribadi seseorang. Seseorang yang berhati bersih akan melahirkan individu yang berakhlak mulia, dekat dengan Allah dan sebagainya.


Masalah hati antara masalah yang terbesar yang boleh menyebabkan kebejatan dalam gerak kerja Islam dan pembentukan individu muslim. Sebagai contoh sikap ria’, ujub, hasad dengki, buruk sangka, suka berniat jahat, khianat dan sebagainya. Selain itu, hati yang kotor juga mudah dipandu oleh syaitan. Ini kerana hati tempat syaitan membisikan dan membenamkan jarum-jarum kejahatan dalam diri manusia serta menyebabkan hubungan dengan ALLAH semakin jauh. Bila mana hati semakin jauh dari Allah, akan semakin jauhlah dirikita dari rahmat Allah. Tanpa rahmat Allah kita mudah terjerumus dalam lembah kejahatan.


Oleh itu, hati perlu sentiasa dijaga dan disucikan dari semasa ke semasa dalam pembentukan diri seorang individu muslim. Untuk menjaga hati kita memerlukan kekuatan ruhiah. Hati perlu dibersihkan dengan sentiasa berzikir, membaca Al-Quran, solat malam dan sebagainya.



Nafsu.

Firah manusia mempunyai nafsu dan tanpa nafsu manusia tidak boleh meneruskan kehidupan. Namun, nafsu juga elemen yang boleh membawa manusia kepada kerosakan. Sebahagian ulama membahagikan tingkatan nafsu ini kepada 7 peringkat iaitu;

1. Nafsu Ammarah (Gagal)

2. Lawwamah ( Lemah)

3. Mulhamah (Lulus)

4. Mutmainnah (Baik)

5. Radhiah (Sangat baik)

6. Mardhiah (Cemerlang)

7. Kamilah (sangat cemerlang)


Nafsu ammarah biasanya mengajak manusia suka kepada kejahatan. Oleh itu, nafsu ammarah perlu dikekang, dikawal supaya tidak mendominasi diri dan mengajak diri kita suka melakukan perkara kejahatan. Maka pentarbiyyah perlu juga menyentuh nafsu supaya nafsu terdidik untuk suka ke arah kebaikan dan seterusnya mampu membentuk diri menjadi individu yang mengamalkan Islam secara sepenuhnya serta mencapai nafsu mutamainnah. Nafsu mutmainnah merupakan tingkat tertinggi bagi manusia kerana ia berjaya memenjara nafsu jahat sehingga jiwa pemiliknya sentiasa tenang.


Allah telah befirman dalam Suratul Al-Fajr: 27 – 30 yang bermaksud,

Hai jiwa yang tenang (mutmainnah)! Kembalilah kepada tuhanmu dengan rasa reda lagi diredai. Masuklah ke dalam kumpulan hamba-hambaKu dan masuklah ke syurgaKu.”


Persoalannya bagaimana untuk mendidik nafsu? Kekuatan ruh sahaja yang mampu menundukkan nafsu dalam diri. Nafsu perlu dikekang dengan melakukan solat-solat sunat, puasa dan sebagainya.


"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. Dengan begitu, kamu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu." (Al-Anfal: 60)

Begitulah seruan Allah kepada kita untuk menyiapkan diri untuk berperang.Jika di zaman Rasulullah,kuda atau lain-lain keperluan pada waktu itu adalah alat untuk mendaulatkan islam melalui perang,maka di zaman ini perlulah lah kita menggantikan alat-alat tersebut dengan segala jenis alat atau strategi untuk mempersiapkan diri kita sebelum kita memulakan sebuah tarbiyyah di tempat yang baru atau meneruskan kesinambungan perjuangan di tempat yang sudah sedia ada tapak perjuangan.

Antara ilmu-ilmu yang perlu di persiapkan oleh setiap daei dalam membina sebuah organisasi baru ialah :
1) Ilmu Fardhu Ain
2) Ilmu Haraki
3) Ilmu Organisasi,sistem,pengurusan dan kepemimpinan
4) Ilmu Strategi
5) Ilmu saraf,psikologi dan pemahaman terhadap jiwa manusia.


Sama-samalah kita menyediakan diri untuk menjadi seorang pentarbiyyah yang berjaya dunia dan akhirat,pentarbiyyah yang dapat memahami waqi dan sasaran dakwahnya,pentarbiyyah yang dapat menjadi role model kepada ahli bawahannya,pentarbiyyah yang rendah diri dan tegas,dan yang paling penting,pentarbiyyah yang mampu membina para pejuang baru yang sejati. maka janganlah sesekali kita menjadi pembina seperti mamat ini. Mamat masih boleh meruntuhkan semua bangunan terbengkalai itu dalam sehari sahaja,tapi jika kita telah melahirkan kader yang terbengkalai,mereka akan menjadi musuh dalam selimut buat perjuangan ini dalam berdekad lamanya.jika ingin meruntuhkan mereka,memerlukan suatu jangkamasa yang amat panjang

Sabtu, 2 Oktober 2010

Abu nawas dan lembu


Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.

“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku.”

Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”

Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.

Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”

Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, “Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot.

Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”

“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”

“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.

Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”

Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas

Naik Pangkat

Salim secara tiba-tiba dipanggil ke bilik Pengarah.

Pengarah: “Awak tahu kenapa saya panggil kamu ke sinii?”

Salim: “Tahu tuan, untuk kenaikan pangkat saya kan?”

Pengarah: “Kamu belum setahun di sini, masuk sini kamu jadi Dispatch, seminggu kemudian jadi Sales, sebulan kemudian kamu saya lantik jadi Sales Manager, dan setelah tiga bulan, kamu saya lantik jadi Wakil Pengarah. Bulan ini saya pencen kamu gantikan saya ya?”

Salim: “Terima kasih tuan….”

Pengarah: “Itu sahaja yang boleh kamu katakan?”

Salim: “Laaa.., Ayah kan dah janji kelmarin?”
Related Posts with Thumbnails
Ya Allah... seandainya hari ini aku sedang memimpin, pimpinlah aku untuk memimpin, seandainya aku sedang mentarbiyyah, tarbiyyahlah aku untuk aku mentarbiyyah, tapi ya Allah seandainya aku sedang mencintai manusia tetapkan hatiku untuk mendahului cintaMu dari cinta manusia.. Hidup berjuang untuk berkorban,Syahid jadi impian