Isnin, 27 Disember 2010

‘AMR BIN JAMUH


‘AMR BIN JAMUH adalah salah seorang pemimpin Yatsrib masa jahiliyah. Dia kepala suku yang dihormati dari Bani Salamah. Seorang penduduk Madinah yang sangat pemurah dan rnemiliki peri kemanusiaan yang tinggi.

Sudah menjadi adat bagi para bangsawan jahily menempatkan patung di rumah mereka masing untuk pribadi mereka. Pertama, supaya mereka dapat mengambil berkat dan memuja patung tersebut setiap pagi dan petang. Kedua, untuk memudahkan mereka meletakkan kurban suci di altar pada waktu-waktu tertentu. Ketiga, supaya mereka dapat mengadukan keluhan-keluhan mereka setiap waktu diperlukan.

Patung di rumah ‘Amr bin Jamuh bernama “M a n a t”. Patung itu terbuat dari kayu. Buatannya indah dan ma-hal harganya. Guna perawatannya ‘Amr bin Jamuh perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Patung itu selalu dibersihkan dan diminyakinya dengan wangi khusus dan mahal.

Tatkala cahaya iman mulai merambat di Yatsrib dari rumah ke rumah, usia ‘Amr bin Jamuh sudah lewat enam puluh tahun. Tokoh da’wah Islamiah yang pertama-tama aktif di Yatsrib ialah Mush’ab bin ‘Umair.

Tiga orang putera ‘Amr bin Jamuh, yaitu : Mu’awwadz, Mu’adz dan Khallad, serta seorang kawan sebaya mereka, yaitu Mu’adz bin Jabal, telah masuk Islam di tangan Mush ‘ab bin ‘Umair. Bersarna ketiga putera ‘Amr Islam pula ibu mereka Hindun. ‘Amr tidak mengetahui kalau putera putera dan isterinya telah masuk Islam.

Hindun, isteri ‘Amr bin Jamuh, mengetahui bahwa Islam telah menjadi agama penduduk Yatsrib. Para bangsawan dan kepala-kepala suku telah banyak masuk Islam. Yang belum masuk Islam hanya suaminya dan beberapa orang lain yang jumlahnya tidak seberapa.

Hindun mencintai suarninya dan hormat kepadanya. Dia kuatir kalau suaminya mati kafir lalu masuk neraka. Tetapi sebaliknya ‘Amr selalu pula kuatir keluarganya akan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dia takut putera-puteranya terpengaruh oleh da’wah yang dilancarkan Mush’ab bin ‘Umair. Karena dalam tempo singkat Mush’ab berhasil merubah agama orang banyak dan menjadikan mereka muslim.

Karena itu ‘Arnr berkata kepada isterinya, “Hai, Hindun! Hati-hatilah menjaga anak-anak, agar mereka jangan sampai bertemu dengan orang itu (Mush ‘ab bin ‘Umair)!”

Jawab isterinya, “Adinda patuhi nasihat kakanda. Tetapi pernahkah kakanda mendengar putera kakanda Mu ‘adz bercerita mengenai orang itu?”

“Celaka ! Apakah si Mu’adz telah masuk agama orang itu? “tanya ‘Amr gusar.

Wanita yang saleh itu kasihan melihat suaminya yang sudah tua.

“Tidak! Bukan begitu! Tetapi si Mu’adz pernah hadir dalam majelis orang itu, dia ingat kata-katanya,” jawab isterinya menenteramkan hati ‘Amr.

‘panggillah dia kemari!” kata suaminya.

Ketika Mu’adZ hadir di hadapan bapaknya, ‘Amr berkata, “Coba baca kata-kata yang pernah diucapkan orang itu. Bapak ingin emndengarkannya

Mu’adz membacakan surat Al Fatihah kepada bapaknya.

“Alangkah bagus dan indahnya kalimat itu,” kata ‘Amr.

“Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya ‘Armr.

“Bahkan lebih bagus dari itu. Bersediakah Bapak bai’at dengannya? Rakyat Bapak telah bai’at semuanya dengan dia,” kata Mu’adz.

Orang tua itu diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Saya tidak akan melakukannya sebelum musyawarah lebih dahulu dengan “Manat”. Saya menunggu apa yang dikatakan Manat.”

“Bagaimana Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati tidak bisa berpikir dan tidak bisa berbicara?” kata Mu’adz.

“Saya katakan kepadamu, saya tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” kata ‘Amr menegaskan.

‘Amr bin Jamuh menyembah Mamat di altar tempat dia biasa memuja. Dipujinya patung itu dengan puji-pujian setinggi Kemudian dia berkata, “Hai, Manat! Saya tidak ragu, engkau tentu tahu mengenai seorang Da’i yang datang dari Makkah. Dia tidak bermaksud jahat kepada siapa pun, inelainkan kepada engkau sendiri. Dia datang kemari, melarang kami menyembah engkau. Sekalipun saya terpesona mendengarkan kalimat-kalimatnya yang indah, saya tidak mau melakukan bai’at dengannya sebelum bermusyawarat dengan engkau. Karena itu berilah saya petunjukmu.”

Sudah tentu Manat tidak menjawab apa-apa. Dia diam seribu bahasa seperti biasa, dan akan terus diam.

Kata ‘Amr, “Mungkin engkau marah kepada saya. Padahal saya tidak pernah menyakitimu selama ini. Tetapi tidak apalah. Engkau akan saya tinggalkan beberapa hari sampai marahmu hilang.”

Putera-putera ‘Amr tahu benar kapan waktunya bapak mereka memuja berhala itu. Mereka juga tahu iman bapaknya telah goyang terhadap Manat. Karena itu mereka berusaha hendak mencabut Manat dari hati yang telah goyang itu sampai tuntas. Itulah jalan satu-sa tunya menuju iman yang benar.

Pada suatu malam putera-putera ‘Amr dan kawan mereka Mu’adz bin Jabal pergi ke altar tempat Manat berada. Manat mereka ambil, lalu mereka bawa ke lobang kotoran Bath Salamah dan mereka lemparkan ke sana. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka.

Setelah hari Subuh, ‘Amr pergi ke altar hendak memuja. Tetapi alangkah terkejutnya ‘Amr ketika diihatnya Manat tidak ada di tempatnya.

“Celaka Kemana Tuhan kita? Siapa yang mengambilnya tadi malam?’ tanya ‘Amr.

Tidak seorang pun yang menjawab. ‘Amr mencari Manat ke mana-mana. Dia marah-marah. Akhirnya patung itu ditemukannya ke comberan dalam keadaan terbalik, kepalanya kebawah dan kakinya ke atas. Manat diambilnya, lalu dimandikan dan diminyaki dengan minyak wangi. Sesudah itu diletakkannya kembali ke tempat semula.

“Demi Allah! Seandainya saya tahu siapa yang menganiaya engkau, niscaya saya hukum dia!” kata ‘Amr kepada Manat.

Malam kedua anak-anak remaja itu bertindak pula seperti yang dilakukan mereka kemaren. Setelah Subuh tiba, ‘Amr mencari Manat dan menemukannya dalam lobang comberan bergelimang kotoran. ‘Amr mengambil Manat, lalu dibersihkannya, kemudian diminyakinya dengan harum-haruman. Sesudah itu diletakkannya pula kembali ke tempat pemujaan. Begitulah remaja-remaja itu memperlakukan Manat setiap malam. Akhirnya habislah kesabaran ‘Amr. Maka diarnbilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher patung Manat.

Kata ‘Amr, “Hai, Manat! Demi Allah! Sesungguhnya saya tidak tahu siapa yang menganiaya engkau. Seandainya: engkau memang sanggup, cobalah lawan orang yang menganiayamu itu. ini pedang untukmu’

`Kemudian orang tua itu pergi tidur. Setelah putera-putera ‘Amr yakin ayahnya telah tidur pula, mereka pergi ke tempat Manat. Mereka ambil pedang yang tergantung di leher Manat, kemudian Manat mereka bawa ke luar. Sesudah itu Manat mereka ikat jadi satu dengan bangkai anjing lalu mereka lemparkan ke comberan Bani Salarnah. Setelah orang tua itu bangun, dilihatnya Manat tidak ditempatnya. ‘Amr pergi mencari-cari dan ditemukanr dalam comberan. Muka Manat menghadap ke tanah bersatu dengan bangkai anjing. Pedangnya tidak ada. Sekarang Manat tidak diambilnya, tetapi dibiarkannya tercampak dalam comberan.

Kata ‘Amr, “Kalau benar engkau Tuhan, niscaya engkau tidak mau masuk comberan bersama dengan bangkai anjing.”

Tidak lama kemudian ‘Amr masuk Islam.

‘Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia menyesali dosa-dosanya selama dalam kemusyrikan. Maka setelah Islam, diarahkannya seluruh hidupnya, hartanya, dan anak.anaknya dalam menta’ati Allah dan Rasul-Nya.

Tidak berapa larna kemudian terjadi perang Uhud. ‘Amr bin Jamuh rnelihat ketiga puteranya bersiap.siap hendak memerangi musuh-musuh Allah. Mereka bersemangat dan tangkas bagaikan singa jantan. Dalam hati mareka bergelora keinginan hendak mati syahid dan memperoleh ridha Allah. Apa yang dilihat ‘Amr berbekas di hatinya dan membakar semangat dan tekadnya untuk turut berperang bersama.sama dengan Putera-puteranya di bawah bendera Rasulullah saw.

Tetapi putera-putera ‘Amr sepakat melarang bapak rnereka turut berperang Dia sudah tua dan berjalan terpincang Allah telah memberi kelonggaran baginlya karena sudah ‘uzur dan cacat. Putera berkata kepada ‘Amr, ‘Wahai Bapak kami! Sesungguhnya Allah telah membebaskan Bapak dari kewajiban berperang. Mengapa Bapak harus memaksakan diri. Bukankah Allah telah mema ‘afkan Bapak?”

Orang tua itu marah mendengar keberatan putera puteranya. Dia pergi menemui Rasulullah mengadukan mereka kepada beliau.

“Wahai Rasulullah! Putera-putera saya melarang saya berbuat baik. Mereka keberatan saya turut berperang karena saya sudah tua dan pincang. Demi Allah! Walaupun saya sudah tua dan pincang, saya tidak ingin bersantai santai untuk mendapatkan surga. Sungguh pun saya pincang, saya pengendara kuda yang tangkas!” kata ‘Amr mengadu kepada Rasulullah.

Maka bersabda Rasulullah kepada putera-puteranya, “Biarkanlah ayah kalian! Mudah-mudahan Allah memberinya rezki surga.”

Putera-putera ‘Amr membiarkan bapaknya turut berperang, karena patuh kepada perintah Rasulullah.

Ketika waktu berangkat sudah tiba, ‘Amr bin Jamuh pamit kepada isterinya mengucapkan salam perpisahan. Berpisah untuk tidak bertemu lagi. Kemudian dia meng hadap ke kiblat sambil menadahkan kedua tangannya ke langit. Dia mendo’a, “Wahai Allah! Berilah saya rezki sebagai syuhada. Janganlah saya dikembalikan kepada keluarga saya dengan kecewa

Sesudah mendo’a dia berangkat diiringi ketiga orang puteranya dan pasukan besar kaumnya, Bani Salamah. Ketika pertempuran telah berkecamuk, tentara muslimin terpencar-pencar, banyak yang meninggalkan Rasulullah. ‘Amr bin Jamuh berada di barisan depan pasukan berkuda. Dia jatuh terbanting dari kudanya. Dia bangun dan menyerang musuh terpincang-pincang sambil berteriak, “Saya tertarik ke surga Saya tertarik ke surga Saya tertarik ke surga !“

‘Amr selalu didampingi puteranya Khallad. Kedua beranak itu melindungi Rasulullah dengan menebaskan pedang mereka kepada musuh-musuh yang mendekat. Namun akhirnya kedua beranak itu tewas di medan tempur sebagai syuhada’ dalam waktu hampir bersamaan.

Selesai pertempuran, Rasulullah memeriksa korban korban yang syahid untuk menyaksikan mayat-mayat mereka. Beliau memerintahkan kepada para sahabat, “kuburkan mereka dengan pakaian mereka yang berlumuran darah. Saya menjadi saksi bagi mereka, bahwa mereka syahid karena Allah. Tidak seorang pun muslim yang terluka dalam perang fi sabilillah, melainkan darahnya mengalir di hari kiamat menjadi za ‘faran dan baunya seperti kasturi. Kuburkan ‘Amr bin Jamuh satu kuburan dengan Khallad bin ‘Amr. Keduanya saling mencinta dan berada dalam satu barisan di dunia.”

Semoga Allah meridhai ‘Amr bin Jamuh dan seluruh syuahada dalam perang Uhud. Ya Allah! Berilah cahaya dalam kubur mereka

Amin!!!

Khamis, 2 Disember 2010

Pantun Sakit Hati

Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Kenapa kau nak jolok pakai galah
Sebab cempedak tu dah jatuh kat luar pagar .

Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah hamba menumpang mandi
Patutlah bau badan kau busuk semacam
Bilik air ada, buat apa kau mandi kat ladang..

Pisang emas dibawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Kat pasaraya tak ada hutang hutang
Kalau nak, bayar, Cash On Delivery

Kalau ada jarum yang patah
Jangan di simpan di dalam peti
Kesian betul dengan kau ni
Jarum patah pun kau simpan dalam peti.

Dua tiga kucing berlari
Mana nak sama si kucing belang
Kalau kau berani kejarlah kucing tu
Mesti kau kena cakar sampai berbelang-belang gak..

Kajang Pak Malau kajang berlipat
Kajang hamba mengkuang layu
Kain Pak Malau, Mak Limah yang lipat
Kain aku, si pencuri yang sapu

Rumah Pak Mamat di tepi sawah
Pakai langsir berwarna biru
Ooi Pak Mat, langsir warna biru tak lawa lah
Pakailah warna kuning ke, hijau ke, kelabu asap ke.

Air pasang dalam surut pukul lima
Nyonya bangun pagi siram pokok bunga
Haloo nyonya, mau tanya sikit
Siram pokok bunga aje, tak jual sayur ka?

Tuai padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Kalau padi tu belumlah masak
Janganlah tuai, taklah layu-layuan. .

Limau purut masak di dahan
Batang selasih condong uratnya
Limau purut tak boleh makan
Nanti sakit perut apa ubatnya.

Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Buat apa nak ke Pulau Pandan yang jauh tu
Pergi aje ke Kampung Pandan

Sorong papan tarik padan
Buah keranji dalam perahu
Tolonglah jangan makan buah keranji tu
Nanti badan kau orang berbau.

Hayya Cik Siti, perempuan banyak muda
Ana banyak takut jalan tutup mata
Memanglah takut kalau jalan tutup mata
Sebab takut terpijak lubang Indah Water

Encik Baba jatuh dalam parit
Cik Aminah ketawa jerit jerit
Sampai hati Cik Aminah ketawakan saya jerit-jerit
Mentang-mentanglah saya jatuh dalam parit

Buai laju laju
Sampai pokok sena
Woii, jangan buai laju-laju
Nanti kang tercampak kat pokok sena

Timang tinggi-tinggi
Sampai cucur atap
Cucur atap tak sedap
Cucuk pisang, cucur udang, haaa tu sedap

Sabtu, 27 November 2010

ABU AYYUB AL ANSHARY


(Dimakamkan di bawah pilar kota Konstantinopel)

Sahabat yang mulia ini bernama :KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar. Gelarnya Abu Ayyuh, dan golongan Anshar. Siapakah di antara kaum muslimin yang belum mengenal Abu Ayyub Al Anshary?

Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur maupun di Barat. Karena Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk tempat tinggal Nabi-Nya yang mulia, ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini cukup membanggakan bagi Ayu Ayyub.

Bertempatnya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulang-ulang dan enak untuk dikenang-kenang.

Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut dengan hati terbuka oleh seluruh penduduk, beliau dielu-elukan dengan kemuliaan yang belum pernah diterima se orang tamu atau utusan manapun. Seluruh mata tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya yang baru tiba. Mereka membuka hati lebar-lebar untuk menerima kasih sayang Rasulullah. Mereka buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia yang drindukan itu sudi bertempat tinggal di rumah mereka.

Sebelum sampai di kota Madinah, beliau berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa hari. Di kampung itu beliau membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa. Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan ke kota Yatsrib mengendarai unta. Para pemimpin Yatsrib berdiri sepanjang jalan yang akan dilalui beliau untuk kedatangannya. Masing-masing berebut meminta Rasulullah tinggal di rumahnya. Karena itu Sayyid demi Sayyid menghadang dan memegang tali untuk beliau untuk membawanya ke rumah rnereka.

“Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama Anda menghendaki. Akomodasi. dan keamanan Anda terjamin sepenuhnya.” kata mereka berharap.

Jawab Rasulullah, “Biàrkanlah unta itu berjalan ke mana dia mau, karena dia sudah mendapat perintah.”

Unta Rasulullah terus berjalan. diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati. Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, karena apa yang diangan-angankannya ternyata hampa.

Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang. Mereka ingin tahu siapa yang beruntung rumahnya ditempati tamu dan kekasih yang mulia ini.

Sampai di sebuah lapangan, yaitu di muka halaman rumah Abu Ayyub Al Anshary unta itu berlutut. Rasulullah tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disu ruhnya berdiri dan berjalan kembali. Tetapi setelah berkeliling-keliling, untuk berlutut kembali di tempat semula.

Abu Ayyub mengucapkan takbir karena sangat gembira. Dia segera mendekati Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya barang-barang beliau dengan kedua tangannya, bagaikan mengangkat seluruh perbendaharaan dunia. Lalu dibawanya ke rumahnya

Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan dibersihkannya untuk tempat tiniggal Rasulullah. Tetapi Rasuluulah lebih suka tinggal di bawab. Abu Ayyub menurut saja di mana beliau senang. Setelah malam tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub dan isteninya naik ke tingkat atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada isterinya, “Celaka....! Mengapa kita sebodoh ini. Pantas kah Rasulullab bertempat di bawah, sedangkan kita berada lebib tinggi dari beliau” Pantaskah kita benjalan di atas beliau? Pantaskah kita mengalingi antara Nabi dan Wahyu? Niscaya kita celaka!”

Kedua suami isteri itu bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat Tidak berapa lama berdiam diri, akhirnya mereka memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah Mereka berjalan benjingkit.jjngkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka. Setelah hari Subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah ‘ kami tidak rnau terpejam sepicing pun malam ini. Baik aku maupun ibu Ayyub”

“Mengapa begitu?” tanya Rasulullah

“Aku ingat, kami berada di atas sedangkan Rasulullah Yang kami muliakan berada di bawah. Apabila bergerak sedikit saja, abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami mengalingi Rasulullah dengan wahyu,” kata Abu Ayyub menjelaskan “Tenang sajalah, hai Abu Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, karena akan banyak tamu yang datang berkunjung.”

Kata Abu Ayyub, “Akhirnya saya mengikuti kemauan Rasulullah. Pada suatu malam yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada sehelai, karena itu air yang kami keringkan dengan baju, kami sangat kuatir kalau air mengalir ke ternpat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub bekerja keras mengering kan air sampai habis. Setelah hari Subuh saya pergi menemui Rasulullah.

Saya berkata kepada beliau, “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah”.

Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu. Karena itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.

Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu , Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga yang baik.

Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing. Rasulullah memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri.

Ibnu ‘Abbas pernah bercerita sebagai berikut:

Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu dengan ‘Umar ra.

“Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?”, tanya Umar.

Jawab Abu Bakar, “Saya lapar!”

Kata ‘Umar, “Demi Allah! Saya juga lapar.”

Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasuluflah rnuncul.

Tanya Rasulullah, “Hendak kemana kalian di saat panas begini?”

Jawab mereka, ‘Demi Allah! Kami rnencarj makanan karena lapar.”

Kata Rasulullah, ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah ikut saya.”

Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al Anshary. Biasanya Abu Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullab. Bila beliau terlambat atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub. Setelah mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyongsonu mereka.

‘Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Ibu Ayyub.

“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah.

Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurrna dekat rumah. Mendengar suara Rasulullah, dia bergegas rnenemui beliau.

“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.

Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda datang pada waktu sepert sekarang.

Jawab Rasulullah “Betul. hai Abu Ayyub!

Abu Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak.

Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini. Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”

Jawab Abu Ayyub, “Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing un tuk.Anda bertiga.”

Kata Rasulullah, “Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang menyusui.”

“Abu Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu Ayyub, “Buat adonan roti. Engkau lebih pintar membuat roti.”

Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi dipanggangnya Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah roti yang belum dipotong.

Kata beliau, “Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”

Selesai makan, Rasulullah berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma setengah masak.”— Air mata beliau mengalir ke pipinya.

Kemudian beliau bersabda ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! SesungguhnYa beginilah ni’mat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang seperti in bacalah “Basmalah” lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca tahmid: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenyang kan kami dan memberi kami ni’mat.”

Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub, ‘Datanglah besok ke rumah kami!”

Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila Seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan Rasulullah kepadanya. Lalu dikata oleh ‘Umar, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke rumahnya.”

Kata Abu Ayyub, “Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah.”

Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Ra sulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah, ‘Perla kukanlah anak ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik.”

Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.

“Untuk siapa ini, Pak Ayyub?” tanya Ibu Ayyub.

“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,”jawab Abu Ayyub.

“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekedar suatu pemberian’ “ kata Ibu Ayyub.

“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu Ayyub. “Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?” tanya Ibu Ayyub.

“Derni Allah! Saya tidak rnelihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,” jawab Abu Ayyub.

“Kakanda benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita merdekakan dia,” kata Ibu Ayyub menyetujui.

Lalu gadis kecil itu mereka merdekakan.

ltulah sebagian bentuk nyata celah-celah kehidupan Abu Ayyub setelah dia masuk Islam. Kalau dipaparkan celah-celah kehidupannya dalam peperangan, kita akan tercengang dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu ‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’

Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu awiyah mengerahkan tentara muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan usia akhir tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. Dia tidak menolak rnengharufngi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.

Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”

Jawab Abu Ayyub, ‘Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!”

Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran.

Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini. Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.

Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel niereka menggali kuburuan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati kecuali dalam barisan termpur yang sedang berperang fi sabiillah. Sedangkan usianya telah mencapai delapan puluh tahun. Radhiyallahu ‘anhu. Amin!!!

Selasa, 2 November 2010

Bilik Mayat


Seorang pegawai polis masuk ke bilik mayat di sebuah hospital untuk menyiasat punca
kematian tiga lelaki sekaligus. Selepas memeriksa mayat-mayat itu, dia bertanya kepada
penjaga bilik berkenaan.

Polis: Mengapa ketiga-tiga mayat tersenyum?

Penjaga: Lelaki pertama sedang bersanding, apabila tiba2 diserang strok. Lelaki kedua
pula khabarnya menang loteri dan mati serangan sakit jantung manakala yg ketiga disambar petir.

Polis: Hah! Kenapa disambar petir pun tersenyum?

Penjaga: Masa tu dia ingat orang sedang ambil gambarnya

Rabu, 27 Oktober 2010

ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY


“Sepantasnyalah setiap kaum muslimin mencium kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.

Nah Aku yang memulai !“ (‘Umar bin Khatbthab).

Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah saw. bernama: ‘ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS—SAHMY.

Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab lainnya. Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan ‘Abdullah bin Hudzhafah menemui dua orang raja besar dunia pada zamannya, yaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja Romawi. Pertemuan ‘Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan mewarnai perjalanan sejarah itu sèndiri.

Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun keenam Hijriyah, yaitu ketika Rasulullah saw. mulai mengembangkan Da’wah Islam ke seluruh pelosok dunia. Ketika itu beliau berda’wah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab), mengajak mereka masuk Islam.

Rasullulah saw. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka kenal selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum mengenal seluk-beluk pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke sana mengajak raja-raja asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka menanggalkan kemegahan dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang dianut oleh suatu bangsa yang kemaren menjadi rakyat taklukan mereka.

Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh bisa kembali, berarti suatu kelahiran baru. Karena itu Rasulullah saw. mengum pulkan para sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.

Seperti biasa, mula-mula Rasulullah saw. memuji Allah swt. dan membaca tasyahhud. Sesudah itu beliau berkata:

“Sesungguhnya aku telah merencanakan hendak mengirim beberapa orang di antara kalian kepada raja raja ‘Ajam. Karena itu janganlah kalian menolak gagasan ku, seperti Bani Israil menolak gagasan Isa bin Maryam.”

Jawab para sahabat, “Kami senantiasa siap melaksanakan segala perintah Rasulullah. Kami bersedia dikirim ke. mana saja dihendaki Rasulullah.”

Rasulullah menunjuk enam orang sahabat untuk menyampaikan surat beliau kepada raja-raja ‘Arab dan ‘Ajam. Salah seorang di antara mereka ialah ‘Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy, dipilih beliau untuk menyampaikan surat kepada Kisra Abrawiz, Maharaja Persia.

‘Abdullah bin Hudzafah telah menyiapkan kendaraannya untuk berangkat. Anak-anak dan keluarganya dititipkannya kepada para sahabat. Kemudian dia berangkat ke tujuan, mengemban tugas dan Rasulullah dengan semangat dan tanggung jawab penuh. Gunung yang tinggi didakinya; lurah yang dalam dituruninya. Dia benjalan seorang diri, tiada berteman selain Allah swt.

Akhirnya ‘Abdullah bin Hudzafah tiba di ibu kota Persia. Dia minta izin masuk untuk bertemu dengan Kisra. ‘Abdullah memberitahukan kepada pengawal, bahwa dia utusan Rasulullah untuk menyampaikan surat kepada Kisra. Pengawal memberi tahu Kisra, ada utusan membawa surat untuk Baginda.

Kisra memanggil segala pembesar supaya hadir ke majlis Kisra. Kemudian Kisra mengizinkan ‘Abdullah bin Hudzafah masuk menghadap baginda di majlis yang serba gernilang itu.

‘Abdullah menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam, tetapi kepalanya tegak, jalannya tegap. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan Islam. Di dalam hatinya menyala kekuasaan Iman.

Tatkala Kisra melihat ‘Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawal supaya menenima surat yang dibawa ‘Abdullah. Tetapi ‘Abdullah menolak memberikannya kepada pengawal.

Kata ‘Abdullah, “Jangan...! Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan Kisra tanpa perantara Aku tidak mau menyalahi perintah Rasulullah”

Kata Kisra kepada pengawal, “Biarkan dia mendekat kepadaku!”

‘Abdullah menghampiri Kisra, kemudian surat itu diberikannya ketangan Kisra sendiri. Kisra memanggil sekretaris berkebangsaan ‘Arab, berasal dari Hirah.’) Kemudian Kisra memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh membacakan isinya:

“Dan Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra.

Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk....”

Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api ke marahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Hal itu ialah karena Rasulullah menyebut nama beliau sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.

Kisra berteriak, “Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku....! padahal dia budakku...!”

Lalu diperintahkannya mengusir ‘Abdullah bin Hudzafah dari majlis.

‘Abdullah bin Hudzafah keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di dunia bebas. Tetapi tidak lama ‘Ab dullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya sendiri, ‘Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.”

Lalu dengan sgap dia melompat naik kendaraannya, dan berpacu secepat-cepatnya.

Setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan ‘Abdullah kembali. Tetapi ‘Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari ‘Abdullah ke mana mana. Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan. Mereka melacak ‘Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah ‘Arab. Tetapi ‘Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka.

Setibanya ‘Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.

Mendengar laporan ‘Abdullah, Rasulullah berkata ‘

(Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!)

Kisra menulis surat kepada Badzan, wakil baginda di Yanian untuk menangkap Rasulullah, kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.

Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia yang dipertuan. Badzan mengirim dua orang yang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau. Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu.

Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya sewaktu-waktu.

Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad berada di Yatsrib.”

Kemudian para pedagang itu meneruskan perjalanan mereka ke Makkah. Setibanya di Makkah, mereka menyiarkan berita gembira kepada penduduk Makkah. Kata mereka, “Tenanglah kalian...! Kisra akan membunuh si Muhammad, dan melindungi kalian dan kejahatannya.”

Kedua utusan Badzan terus ke Madinah. Mereka langsung menemui Rasulullah dan menyampaikan surat Badzan kepada beliau:

Kata mereka, Kisra, Maharaja Persia mengirim surat kepada Raja kami, Badzan, memerintahkan kami menemui Anda. Kisra memerintahkan kami supaya membawa Anda bersama-sama dengan kami menghadap baginda. Jika Anda berkenan pergi bersama-sama kami, Kisra mengatakan, itulah yang sebaik-baiknya bagi Anda, karena baginda tidak akan menghukum Anda. Tetapi jika Anda mengabaikan perintah Baginda, Anda tentu sudah tahu, baginda sangat berkuasa untuk membinasakan Anda!”

Rasulullah saw. tersenyum-senyum mendengar perkataan utusan Badzan.

Beliau berkata kepada mereka, “Sebaiknya Tuan-tuan beristirahat lebih dahulu sampai besok. Besok pagi Tuan tuan boleh kembali ke sini!”

Besok pagi kedua utusan itu datang kembali menemui Rasulullah, sesuai dengan janji.

Kata mereka, “Sudah siapkah Anda berangkat bersama-sama dengan kami menemui Kira?”

Jawab Rasulullah, ‘ tidak dapat lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini Kisra telah dibunuh oleh anaknya sendiri “Syirwan”, pada jam sekian, detik sekian, hari dan bulan itu.”

Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah saw. dengan mata terbelalak keheranan.

“Sadarkah Anda dengan ucapan Anda?” tanya mereka. “Bolehkan kami tulis ucapan Anda itu untuk Badzan?”

“Silakan...! Bahkan boleh Tuan-tuan tambahkan, bahwasanya agamaku akan mencapai seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada di bawah kekuasaannya akan saya serahkan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri kuangkat menjadi raja bagi rakyatnya.” jawab Rasulullah yakin.

Kedua utusan Badzan meninggalkan Rasulullah saw. Mereka kembali menghadap Badzan. Mereka melapor kepada Badzan pertemuannya dengan Rasulullah saw., dan menyampaikan pesan beliau kepadanya.

Kata Badzan, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sesungguhnya dia seorang Nabi. Jika tidak, ucapannya itu hanya mimpi belaka.”

Tidak berapa lama kemudian, tibalah surat Syirwan kepada Badzan.

Kata Syirwan, “Kisra telah saya bunuh. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menindas rakyat kami. Para bangsawan kami habiskan. Wanita-wanita mereka kami tawan. Dan harta benda mereka kami rampas. Maka bila suratku ini telah engkau baca, kamu dan rakyatmu hendaklah menyatakan tunduk kepadaku!”

Selesai membaca surat itu, Badzan mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, mulai saat ini dia masuk Islam - Mendengar pengumumannya itu, maka Islam pula segala pembesar dan orang-orang keturunan Persia yang berada di Yaman.

Itulah kisah pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kisra, Maharaja Persia.

Nah...! Bagaimana pula kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung, Maharaja Rum?

Pertemuan ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kaisar Agung, terjadi pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab Al Faruq. Kisahnya merupakan kisah yang amat mengagumkan.

Pada tahun kesembilan-belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar mengirim angkatan perang kaum muslimin memerangi kerajaan Rum. Dalam pasukan itü terdapat seorang perwira senior, ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy,

Kaisar Rum telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara muslimin. Sumber kekuatan mereka ialah Iman yang membaja, dan kedalaman ‘aqidah, serta kebera nian mereka menghadang maut. Mati fisabifflah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka.

Kaisar memerintahkan kepada para perwiranya, “Jika kalian berhasil menawan tentara muslimin, jangan kalian bunuh mereka. Tetapi bawa ke hadapanku!” Ditakdirkan Allah, ‘Abdullah bin Hudzafah tertawa. ‘Abdullah dibawa mereka ke hadapan Baginda Kaisar.

Kata mereka, “Tawanan ini adalah sahabat Muhammad. Dia termasuk sahabat senior, dari kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Dia tertawan, lalu kami bawa ke hadapan Paduka.”

Lama juga kaisar memperhatikan ‘Abdullah bin Hudzafah. Sesudah itu baru dia berkata, “Saya hendak menawarkan sesuatu kepada engkau.”

“Apa yang hendak Anda tawarkan?” tanya Abdullah.

‘Maukah engkau masuk agama Nasrani? Jika engkau mau, saya bebaskan engkau, kemudian saya beri pula hadiah besar,” kata Kaisar.

‘Abdullah bernafas dalam-dalam, lalu menjawab:

‘Yaah ...., aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran Anda,” kata ‘Abdullah mantap.

Kata Kaisar, “Saya lihat engkau seorang perwira yang pintar. Jika engkau mau menerima tawaranku, saya angkat engkau menjadi pembesar kerajaan, dan saya bagi kekuasaan saya dengan engkau.”

‘Abdullah yang diborgol itu tersenyum. Kemudian ia berkata: “Demi Allah! Seandainya Anda berikan kepadaku semua kerajaan Anda, ditambah dengan semua kerajaan ‘Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad agak sebentar saja, niscayalah aku tidak dapat menerimanya.”

Kata Kaisar, “Kalau begitu, saya bunuh engkau!”

Jawab ‘Abdullah, “Silakan...! Lakukanlah sesuka Anda!”

‘Abdullah disuruhnya ikat di kayu salib. Kemudian diperintahkannya tukang panah memanah lengan ‘Abdullah.

Sesudah itu Kaisar bertanya, “Bagaimana...? Maukah engkau masuk agama Nasrani?”

“Tidak!” kata ‘Abdullah.

‘Panah kakinya!” perintah Kaisar.

Maka dipanah orang pula kakinya.

“Nah! Maukah engkau pindah agama?” tanya Kaisar membujuk

‘Abdullah tetap menolak.

Sesudah itu Kaisar menyuruh hentikan siksaan dengan panah, lalu ‘Abdullah diturunkan dari tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalam dan diletakkan orang di atas tungku berapi. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dua orang tawanan muslim. Seorang di antaranya disuruh nya lemparkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian, daging orang itu hancur sehingga keluar tulang belulangnya.

Kaisar menoleh kepada ‘Abdullah, dan membujuknya masuk Nasrani. Tetapi ‘Abdullah menolak lebih keras. Setelah Kaisar putus asa, diperintahkannya melemparkan ‘Abdullah ke dalam kuali. Ketika pengawal menggiring ‘Abdullah ke dekat kuali, ‘Abdullah menangis.

Para pengawal mengatakan kepada Kaisar, ‘Dia menangis, Paduka!”

Kaisar menduga, tentu ‘Abdullah menangis karena takut mati.

Kata Kaisar, “Bawa dia kembali kepadaku!”

‘Abdullah berdiri kembali di hadapan Kaisar.

Kaisar menanyakan apakah ‘Abdullah mau menjadi Nasrani. Dengan Iman yang kokoh kuat, ‘Abdullah tetap menolak bujukan Kaisar.

Kata Kaisar, “Celaka...! Mengapa engkau menangis?”

Jawab Abdullah, “Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati di medan tempur perang fisabiillah. Ternyata kini, aku akan mati konyol dalam kuali.”

“Maukah engkau mencium kepalaku? Nanti kubebaskan engkau!” kata Kaisar dengan angkuh.

Jawab Abdullah, “bebas beserta semua kawan-ka wanku tawanan muslim?”

Jawab Kaisar, “Ya, saya bebaskan engkau berserta semua tawanan muslim.”

‘Abdullah berpikir sejenak, “Aku harus mencium kepala musuh Allah. Tetapi aku dan kawan-kawan yang tertawan bebas. Ah.. tidak ada ruginya.”

“Abdullah menghampiri Kaisar, lalu diciumnya kepala musuh Allah itu.

Sesudah itu Kaisar memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua tawanan muslim untuk dibebaskan dan diserahkan kepada ‘Abdullah bin Hudzafah.

Setibanya ‘Abduflah bin Hudzafah di hadapan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, dilaporkannya kepada beliau semua yang dialaminya serta pembebasannya berikut sejumlah tentara muslimin yang tertawan. Khalifah sangat gembira mendengarkan laporan ‘Abdullah. Ketika Khalifah memeriksa prajurit muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama ‘Abdullah, beliau berkata, “Sepantasnyalah setiap orang muslim mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah. Nah...! Aku yang memulai....!”

Khalifah berdiri seketika itu juga, lalu mencium kepala ‘Abdullah bin Hudzafah As Sahmy.

Related Posts with Thumbnails
Ya Allah... seandainya hari ini aku sedang memimpin, pimpinlah aku untuk memimpin, seandainya aku sedang mentarbiyyah, tarbiyyahlah aku untuk aku mentarbiyyah, tapi ya Allah seandainya aku sedang mencintai manusia tetapkan hatiku untuk mendahului cintaMu dari cinta manusia.. Hidup berjuang untuk berkorban,Syahid jadi impian