Isnin, 30 Ogos 2010

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY



“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh....”

Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.

Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.

Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancur kanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhi di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo ‘akan kaum kafir Quraisy. Karena itu Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa ‘at itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.

Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat.

Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.

Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.

“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.

“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.

Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.

Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir rniskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy.

Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami! “jawab mereka.

“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.

“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya” ucap ‘Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, rnenyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?”

“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya Isterinya pula.

“Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar.

‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah rnenyusup ke rumah tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.

“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suarninya.

“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.

‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat.

Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, karena rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur rnereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.

Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat Datang.

Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur

“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.

“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”

Maka tatkala sernua pihak—yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”

Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.

Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah.

Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk rnelayani masyarakat.”

“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.

Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.

“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk rnela yani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id

“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.

Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.

‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”

“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.

“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“

‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt.”

Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri dialog itu.

Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.

Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puii bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”

“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.

“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.

“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.

“Mengapa....?” tanya isterinya.

‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.

“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”

Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:

‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”

Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!

Sabtu, 28 Ogos 2010

PERSAHABATAN


Mengekalkan persahabatan
Saling memberi kebebasan persahabatan memberi kita ruang untuk berkongsi suka duka bersama dan bukannya untuk saling menyakiti dan membenci di antara satu sama lain. Tetapi menjadi sahabat baik juga tidak bermakna kamu harus memiliki seluruh ruang hidupnya.

Misalnya, melarang temanmu membuat itu dan ini. Malah kamu juga sibuk mengatur perjalanan hidupnya. Ini jelas menunjukkan kamu terlalu mementingkan perasaan sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Apalah salahnya jika kamu saling menghormati hak kebebasan dirinya. Dan apa yang penting, si dia jujur pada persahabatannya.

Saling Menahan rasa Cemburu
Ramai yang berkata cemburu itu bunganya cinta. Tanpa cemburu persahabatan yang dibina tak adalah 'thrill'nya. Tetapi cemburu yang membabi buta boleh menjejaskan hubungan. Ada baiknya sebelum api cemburumu memuncak, cuba selidiki dahulu kebenarannya. Jika ada yang tak kena, tanyalah temanmu itu dengan baik tanpa bersikap marah dan menuduh.

Usahakan untuk berbicara dengan fikiran yang matang dan tenang. Sebenarnya perasaan cemburu ini tidak perlu terlalu ditonjolkan kerana ini boleh membuatkan temanmu itu naik tocang. Dia akan mempergunakan kelemahan kamu itu untuk membuat kamu berasa cemburu dengan berulang kali. Tentu menyakitkan...

Saling Memahami
untuk menjadi sahabat yang baik kamu harus berusaha memahami dan mengenali diri sendiri serta permasalahannya dengan lebih mendalam. Misalnya temanmu itu menolak ajakanmu untuk keluar menonton wayang bersama, kamu tidak boleh membuat tanggapan yang bukan-bukan tentang dirinya. Mungkin dia mempunyai urusan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Adalah lebih baik kamu mencari hiburan sendiri lagipun esok masih ada masa untuk kamu bertemu si dia.

Saling Mengalah
Demi menyelamatkan hubungan, tidak ada ruginya sekali sekala kamu bersikap mengalah. Kamu dan si dia sering bercanggah pendapat. Seperti menonton wayang, kamu sukakan filem romantik tetapi dia pula suka filem aksi. Oleh kerana sayangkan tali persahabatan yang telah terbina sekian lama maka si dia sentiasa menuruti segala kemahuanmu semata-mata mahu menjaga hati dan perasaanmu. Tetapi bila difikirkan semula, apalah salahnya sekali sekala kamu pula yang beralah dan cuba belajar memahami minatnya. Situasi ini tentu akan membuat si dia berasa bahagia dan lebih menyayangi dirimu.

Saling Memberi Kemaafan
Memaafkan perlu tetapi tidak mudah selagi perasaan kesal dan kecewa menguasai diri. Tetapi sebagai insan biasa, kita tidak dapat lari daripada melakukan kesalahan dan kesilapan. Lagipun, sedangkan lidah lagi tergigit, inikan pula kita sesama sendiri. Belajar menjadi seorang teman yang sudi memberi kemaafan kepada orang lain biarpun kamu sendiri tahu perkara itu bukanlah berpunca dari kesalahan atau kesilapan dirimu.

Rabu, 25 Ogos 2010

FAKTOR- FAKTOR KEJATUHAN ISLAM


PEMISAHAN KEPEMIMPINAN DIN DAN SIASAH’

Pada zaman Rasulullah s.a.w. kepemimpinan umat berpusat di satu tempat. Semua perkara, kerohanian, akhlak, ke’ilmuan, kebudayaan, politik, ekonomi dan ketenteraan dipegang dan diarahkan oleh satu kuasa yang sama. Para pentadbir dan pelaksana segala urusan umat ketika itu berpusat pada satu bentuk kepemimpinan yang benar-benar memiliki dan menjiwai kesyumulan Islam. Tiada pemisahan di dalam urusan umat dalam mana-mana aspek sekalipun. Pemisahan dalam urusan umat kepada juzu’-juzu’ yang ada adalah sesuatu yang asing dan ajaran Islam yang lengkap dan sempurna.

Dengan peralihan sistem Khilafah kepada sistem Mulk maka bermulalah pemisahan itu sedikit demi sedikit. Di saat kegentingan sistem Mulk, apabila seluruh perhatian ditumpukan kepada pengukuhan kuasa memerintah, pemerintah telah cuai dan menumpukan perhatiannya kepada segala sudut Islam. Pemerintah hanya berusaha untuk mengekalkan kekuasaannya. Mereka sanggup berusaha untuk berbuat apa sahaja asalkan kedudukan mereka terjamin. Mereka menindas rakyat, merampas harta dan bunuh orang-orang yang menentang mereka.’

Semasa keganasan puak pemerintah ini, terdapat beberapa tokoh-tokoh ‘ulama’ yang terus berusaha untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan dan nasihat. Tetapi pemerintah tidak senang terhadap tindakan mereka lantas mereka ditangkap, di penjara, diseksa dan ada yang dibunuh.

Suasana ini bukan sahaja menjauhkan pemerintah dan dapat menumpukan perhatian mereka kepada da’wah dan pentarbiyyahan umat, tetapi juga menjadikan rakyat menganggap sepi terhadap pemerintah. Dalam suasana ini terdapat beberapa aliran di dalam umat Islam. Di antaranya ada yang terus bersama-sama mengukuhkan kezaliman pemerintah dan ada pula yang bersimpati dengan golongan ‘ulama’ dan terus berjuang bersama-sama mereka. Di kalangan umat Islam ketika itu juga terdapat golongan yang menyepikan diri daripada keadaan yang ada dan menyerahkan segalanya kepada ketentuan Allah iaitu seperti golongan Murji’ah.


KURANGNYA PENTARBIYYAHAN YANG BAIK.

Rasulullah s.a.w. diutuskan oleh Allah untuk menjalankan tugas mentarbiyyah manusia. Baginda s.a.w. membersihkan jiwa-jiwa manusia daripada berhala-berhala peng’abdian yang dicipta sendiri oleh manusia dan menanamkan keimanan yang mendalam terhadap Allah dan kehidupan akhirat. Rasulullah s.a.w. membersihkan manusia dan segala unsur jahiliyyah serta fahaman yang sesat lagi mengelirukan. Hasil daripada itu, baginda s.a.w. telah berjaya membina sebuah , umat yang melandaskan kehidupannya dan masyarakatnya di atas panduan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka inilah yang menjadi generasi pewaris perjuangan Rasulullah s.a.w, Merekalah para pejuang ‘aqidah dan risalah Islam yang agong.

Tetapi apabila berlakunya pemisahan dalam kepemimpinan umat kepada dua pusat yang berbeza, keadaan berubah dengan begitu pesat sekali. Perkembangan kawasan negara Islam serta bertambahnya penganut-penganut Islam tidak dapat ditampung dengan satu pentarbiyyahan yang baik. Keadaan ini menjadi bertambah teruk apabila tugas-tugas pentarbiyyahan ini tidak diberikan perhatian berat oleh pemerintah. Walaupun golongan ‘ulama’ meneruskan tugas-tugas pentarbiyyahan ini, namun usaha mereka adalah terlalu kecil jika dibandingkan dengan bilangan umat yang ramai yang perlu ditarbiyyahkan. Ini kerana tugas pentarbiyyahan ini dijalankan dengan pembiayaan ‘ulama’ sendiri serta beberapa dermawan dan tidak melalui bantuan khusus dan meluas dari pemerintah. Dalam sejarah umat Islam di zaman ini hanya sedikit sahaja berlaku pentarbiyyahan umat yang dilaksanakan dan dikendalikan secara langsung oleh pemerintah yang mendapat sokongan dan kerjasama dari ‘ulama’ yang soleh .’

Tanpa pentarbiyyahan yang baik juga menjadikan umat Islam pada keseluruhannya sukar untuk menjiwai pengertian ajaran-ajaran Islam secara tepat. Banyak pengertian-pengertian yang terkandung di dalam Islam telah menjadi kabur ataupun disalahertikan oleh sebahagian besar umat Islam. Perkara ini termasuklah pengertian-pengertian seperti tauhid rububiyyah, tauhid, uluhiyyah, khalifatullah fil ard, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, al-wala’ dan sebagainya. Dalam keadaan kekaburan terhadap konsep-konsep penting di dalam Islam, maka mudahlah umat Islam dihinggapi dengan unsur-unsur baru sebagai pengganti kepada kefahaman Islam yang tidak jitu di dalam diri mereka. Dan sinilah dengan mudah sekali falsafah-falsafah asing, khurafat dan bid’ah menyerap masuk ke dalam pemikiran, kepercayaan dan ‘amalan umat Islam. Dalam suasana tarbiyyah umat yang tidak menyeluruh dan tidak mantap inilah serangan demi serangan dihadapi oleh umat Islam sehinggalah ‘aqidah mereka sedikit demi sedikit menjadi luntur.

Kesan dari pentarbiyyahan yang tidak memberi kekuatan kepada ‘aqidah umat Islam, mulalah mereka melihat ‘ilmu pengetahuan dalam satu perspektif yang sempit. Tumpuan pencapaian ‘ilmu-’ilmu yang boleh menguatkan umat Islam seperti bidang teknik tidak diambil berat. Lama kelamaan umat Islam ditinggal jauh oleh musuh-musuh mereka dalam bidang ini.



HILANGNYA TANGGUNGJAWAB DA’WAH DAN JIHAD PADA UMAT ISLAM.

Para sahabat yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w. memahami dua perkara . Pertama: Dunia ini mereka anggap sebagai kerajaan Allah dan mereka diangkat Allah menjadi khalifah-Nya untuk mengurus, sesuai dengan firman Allah:

(Ingatlah) ketika Tuhan berkata: ‘Sungguh Aku menjadikan seorang Khalifah di muka bumi”.

(Al-Baqarah: 30)

“Dia (Allah)lah yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu.”

(Al-Baqarah: 29)

“Dan sungguh Kami telah muliakan Bani Adam (manusia), Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri rezeki mereka yang baik-baik, dan Kami Iebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.”

(Al-Isra’: 70)

Kedua: Sebagai manusia ia menyerah kepada Allah, tunduk kepada hukum-Nya, diangkat Allah sebagai khalifah di bumi dan ia wajib menjaga penduduk bumi. Firman Allah: .

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan ‘amal- ‘amal soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka din yang telah diredai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

(An-Nun: 55)

Para sahabat sentiasa melaksanakan da’wah dan jihad. Bagi mereka Islam tidak akan tertegak hanya dengan berpeluk tubuh atau berbangga-bangga dengan kegemilangan yang silam. Tetapi Islam tegak dengan pengorbanan dan darah. Mereka adalah satu umat yang sentiasa meletakkan kepentingan Islam melebihi kepentingan-kepentingan lain. Mereka mengutamakan Islam lebih daripada keutamaan bangsa, tanahair, keluarga dan lebih utama daripada diri mereka sendiri. Mereka tidak rela melihat Islam tercabar apatah lagi tewas di tangan orang-orang munafik, fasik dan kafir.

Tetapi sebahagian besar dari umat Islam sesudah mereka tidak dapat menjiwai sifat-sifat ini mereka merasa ringan terhadap tugas khalifatullah fil ard yang dibebankan ke atas bahu mereka. Mereka tidak sedar bahawa sifat-sifat kelslaman mereka tidak dapat dipertahankan jika mereka tidak melaksanakan da’wah dan jihad dan ‘aqidah mereka boleh menjadi luntur sekiranya mereka tidak berjuang dengan harta dan jiwa mereka untuk mengukuhkan dan menegakkan Islam. Mereka berbangga dengan peninggalan warisan Islam yang ada pada mereka, tanpa mahu bersusah-payah menyebarkan Islam melalui da’wah dan jihad.

Apabila tanggungjawab da’wah dan jihad hilang dan hati umat Islam, maka mulalah umat Islam dihinggapi berbagai-bagai penyakit. Penyakit-penyakit riddah, fasik dan nifaq mula meluas di kalangan sebahagian umat Islam. Apabila perkara ini berlaku, maka akan mudahlah mereka menjual iman mereka dengan harga yang murah demi untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan yang sedikit.



BERJUANG UNTUK MENCAPAL MATLAMAT YANG BUKAN ISLAM

Umat terdahulu dipimpin oleh satu kepimpinan yang menyatukan seluruh ajaran Islam di satu pusat serta mendapat pentarbiyyahan lengkap dan sedar terhadap tanggungjawab da’wah dan jihad. Dengan itu mereka telah dapat berjuang sepenuhnya untuk mengukuhkan Islam. Sebaliknya umat yang datang kemudian, tidak memiliki ketiga sifat-sifat di atas dan telah kehilangan panduan terhadap matlamat kehidupan mereka yang sebenarnya. Mereka telah kehilangan perasaan tanggungjawab memperjuangkan Islam.

Mereka telah kehilangan dorongan-dorongan semangat yang kuat untuk berkorban demi kepentingan Islam. Dalam suasana ini mereka telah tidak lagi dapat memahami tuntutan-tuntutan serta keutamaan syari’at Islam. Mereka tidak meletakkan keutamaan syari’at Islam di tempat yang sepatutnya. Mereka mengutamakan pembangunan kebendaan di atas perlindungan din itu sendiri. Hasil daripada itu banyaklah berlaku pelanggaran hukum-hukum Allah. Umat Islam sudah kehilangan perasaan gerun apabila melakukan dosa dan larangan. Mereka tidak lagi menganggap besar melakukan dosa dan larangan. Mereka tidak lagi menganggap besar melakukan dosa-dosa besar dan melakukan dosa-dosa kecil itu merupakan kebiasaan mereka. Apabila umat Islam sudah menganggap ringan dosa-dosa yang mereka kerjakan maka tidaklah ada bezanya di antara mereka dengan musuh-musuh mereka. Umat Islam yang begini mudah sahaja dihinggapi dengan penyakit cintakan dunia serta kemewahan dan takutkan mati.

Ketika umat Islam dihinggapi oleh penyakit kebendaan ini maka di saat itulah mereka berusaha untuk melandaskan seluruh tindakan-tindakan mereka kepada satu pemikiran selain daripada Islam. dan sejarah umat Islam, jelas bahawa landasan tindakan mereka ini berlaku dalam bentuk ‘asabiyyah yang sempit hinggalah kepada satu bentuk falsafah politik yang tersusun yang pada hari ini dinamakan nasionalisme. Di mana-mana sahaja, sama ada mereka cenderung pada ideologi liberalisme ataupun sosialisme, mereka tetap melaung-laungkan slogan nasionalisme. Seruan ini begitu meluas sekali hingga menjelang abad ke 20 Masihi , tidak terdapat sebuah negara umat Islam pun yang pemimpinnya tidak menyeru kepada satu bentuk perjuangan nasionalisme. Pendekatan kekosongan yang wujud di dalam umat Islam telah diisi dengan satu perjuangan yang baru, iaitu perjuangan untuk meneguhkan ideologi-ideologi, falsafah-falsafah serta manifestasi-manifestasi Barat di dalam negara-negara mereka.

Apabila umat Islam memperjuangkan ideologi-ideologi dan cara hidup asing ini, maka seluruh asas masyarakat telah diubah. Dasar-dasar politik, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, ketenteraan dan segala yang menjadi unsur dinamik di dalam masyarakat telah diubah. Dasar-dasar politik, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, ketenteraan dan segala yang menjadi unsur dinamik di dalam masyarakat telah dibentuk menurut acuan ideologi-ideologi tersebut. Dalam keadaan ini Islam menjadi kabur di dalam masyarakat. Islam cuma difahami sebagai satu agama yang menyusun aspek-aspek tertentu sahaja dalam kehidupan mereka. Mereka memahami ‘ibadat dalam satu pengertian yang begitu sempit. Mereka mempunyai sikap dan pandangan terhadap hidup sama seperti sikap dan pandangan hidup orang-orang yang sepatutnya menjadi musuh mereka. Apabila keadaan ini berlaku maka jadilah umat Islam seperti ghutha’ atau buih-buih yang banyak tetapi tiada terdapat kekuatan di dalamnya .

Related Posts with Thumbnails
Ya Allah... seandainya hari ini aku sedang memimpin, pimpinlah aku untuk memimpin, seandainya aku sedang mentarbiyyah, tarbiyyahlah aku untuk aku mentarbiyyah, tapi ya Allah seandainya aku sedang mencintai manusia tetapkan hatiku untuk mendahului cintaMu dari cinta manusia.. Hidup berjuang untuk berkorban,Syahid jadi impian